Abstraks :Perancangan galeri seni di Kota Mataram ini dilatarbelakangi oleh berkembangnya seni rupa murni di Pulau Lombok, yang belum memiliki fasilitas representatif untuk menampung karya dan kegiatan seni. Saat ini, fasilitas yang ada seperti Taman Budaya masih terbatas dari segi kapasitas maupun fungsi, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan seniman lokal maupun pengunjung yang semakin meningkat. Dengan jumlah wisatawan yang tinggi serta adanya komunitas dan seniman independen, diperlukan sebuah ruang publik yang mampu menjadi pusat apresiasi, edukasi, dan interaksi seni. Perancangan menggunakan pendekatan Atmospheres Peter Zumthor yang menekankan pengalaman ruang melalui aspek sensoris seperti pencahayaan, material, suara, dan hubungan interior-eksterior. Pendekatan ini diharapkan menciptakan atmosfer yang mendukung interaksi emosional antara pengunjung dan karya seni. Proses perancangan diawali dengan pengumpulan data primer (observasi, wawancara, dokumentasi) dan sekunder (studi literatur), dilanjutkan analisis tapak, iklim, kebisingan, serta kebutuhan ruang. Hasil perancangan diharapkan tidak hanya menjadi sarana pameran, tetapi juga pusat aktivitas seni dan budaya yang mampu meningkatkan apresiasi masyarakat, mendukung perkembangan seniman lokal, serta memperkuat daya tarik wisata budaya di Kota Mataram.
Copyrights © 2026