Artikel ini mengkaji secara mendalam fragmentasi otoritas keagamaan di media sosial melalui kerangka postmodernisme Jean-François Lyotard. Di era digital kontemporer, arsitektur media sosial telah menjadi katalisator bagi dekonstruksi metanarasi keagamaan, di mana otoritas tradisional yang mengklaim kebenaran universal menghadapi krisis epistemologis yang serius. Melalui metode kualitatif dan tinjauan literatur yang komprehensif, kajian ini mengeksplorasi bagaimana algoritma platform digital merepresentasikan ‘permainan bahasa’ (language games) yang menyejajarkan teks suci dengan konten profan. Fragmentasi ini melahirkan aktor-aktor agama baru (faith influencers) yang legitimasinya tidak ditopang oleh sanad keilmuan atau metodologi teologis (ushul fiqh), melainkan oleh kapitalisme atensi, karisma visual, dan metrik algoritmik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komodifikasi agama dan lahirnya simulakra kesalehan memicu relativisme kebenaran, di mana otentisitas tafsir tereduksi oleh konten instan. Artikel ini menyimpulkan perlunya hibridisasi antara epistemologi tradisional dan literasi media baru agar diskursus keagamaan tidak kehilangan kedalaman substansinya di tengah arus postmodernitas.
Copyrights © 2026