Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Evaluasi Pendidikan Agama Islam yang Ideal Perspektif Filsafat Pendidikan Islam Suharjo; Zulmuqim; Muhammad Zalnur; Reo Chandrika; Meliya
Arus Jurnal Pendidikan Vol 2 No 3: Desember (2022)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajup.v2i3.138

Abstract

Idealnya evaluasi pendidikan islam adalah menuangkan fikiran tentang penilaian dalam proses belajar mengajar yang mempunyai tujuan dan fungsi untuk mengetahui tingkat keberhasilan atau tidaknya tujuan pendidikan islam dengan seluruh komponen yang terlibat di dalamnya dalam mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Evaluasi khususnya dunia persekolahan. Bagi siswa yaitu memuaskan dan tidak memuaskan, sedangkan bagi guru dapat mengetahui siswa-siswa mana yang sudah menguasai atau yang belum menguasai pelajarannya. Demikian juga penggunaan metode yang tepat. Jika perolehan nilai dari siswa memperoleh angka di bawah kriteria ketuntasan minimun, maka boleh jadi penyebabnya adalah pendekatan atau metode yang kurang tepat. Sedangkan bagi sekolah adalah menciptakan kondisi belajar sebagai cerminan sekolah yang berkualitas. Pembahasan pada penelitian ini menggunakan metode Analisis isi (content analysis), yaitu penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa, serta menganalisis semua bentuk komunikasi. Data yang dihimpun dalam penelitian ini diperoleh dari penelitian perpustakaan (library research). Semua data dalam pembahasan ini terdiri dari buku-buku filsafat, pendidikan islam dan jurnal ilmiah yang berkaitan dengan tema, serta informasi yang relevan. Maka dari itu evaluasi yang ideal adalah evaluasi yang dilakukan oleh evaluator yang memahami konsep evaluasi dan perkembangan siswa. Sehingga pengukuran, penilaian, pemberian test sampai pada akhir evaluasi dan tindakan lanjut akan tepat sasaran sehingga output dari evaluasi akan memberikan dampak yang positif bagi pembelajaran. Evaluasi pendidikan agama Islam yang ideal adalah evaluasi yang tidak hanya melihat kognitif siswa dalam pembelajaran namun juga melihat spritual siswa dalam beribadah kepada Allah Swt sehingga tercipta manusia yang berakhlakul karimah dan cerdas dalam berwawasan.
Wahdatul Wujud Ibn ‘Arabi di Era Digital: Rekonstruksi Kesadaran ‎Spiritual dan Etika Bermedia Sosial Santri ‎ Reo Chandrika; Gazali Gazali
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Juli 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i3.964

Abstract

Artikel ini mengkaji relevansi konsep Wahdatul wujud yang dikembangkan oleh Ibn 'Arabi sebagai kerangka epistemologis dan etis bagi kalangan santri di tengah disrupsi teknologi digital. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada fenomena pergeseran ruang spiritual santri dari ruang fisik pesantren ke ruang virtual media sosial, yang berpotensi menimbulkan krisis makna, fragmentasi identitas, dan hiperrealitas keagamaan. Tujuan penelitian ini adalah merekonstruksi konsep-konsep kunci Wahdatul wujud, martabat wujud, dan insan kamil, menjadi kerangka kesadaran digital yang dapat membimbing santri dalam berinteraksi dengan teknologi secara etis dan spiritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kepustakaan (library research) dengan metode filosofis-hermeneutik dan fenomenologi digital, menelaah sumber primer berupa Fushush al-Hikam dan al-Futuhat al-Makkiyyah, serta sumber sekunder berupa kajian tasawuf kontemporer dan literatur tentang religiusitas digital. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsep tajalli dapat dibaca ulang sebagai kerangka kritis untuk memahami representasi diri di media sosial, sementara insan kamil dapat dioperasionalkan sebagai model literasi digital yang menekankan integritas, moderasi, dan verifikasi informasi. Novelty penelitian ini terletak pada argumen bahwa Wahdatul wujud bukan sekadar doktrin metafisika klasik yang statis, melainkan dapat direkonstruksi menjadi paradigma kesadaran digital yang memosisikan hubungan Tuhan, manusia, dan teknologi dalam satu kontinum ontologis yang harmonis, bukan terpisah dan saling asing.
Analisis Postmodernisme Lyotard dan Otoritas Keagamaan di Era Digital: Dekonstruksi Metanarasi dan Munculnya Kelas Influencer Reo Chandrika; Fadhil Ahsan
Jurnal Humaniora & Sosial Sains Vol 3 No 2 (2026)
Publisher : Pojok Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengkaji secara mendalam fragmentasi otoritas keagamaan di media sosial melalui kerangka postmodernisme Jean-François Lyotard. Di era digital kontemporer, arsitektur media sosial telah menjadi katalisator bagi dekonstruksi metanarasi keagamaan, di mana otoritas tradisional yang mengklaim kebenaran universal menghadapi krisis epistemologis yang serius. Melalui metode kualitatif dan tinjauan literatur yang komprehensif, kajian ini mengeksplorasi bagaimana algoritma platform digital merepresentasikan ‘permainan bahasa’ (language games) yang menyejajarkan teks suci dengan konten profan. Fragmentasi ini melahirkan aktor-aktor agama baru (faith influencers) yang legitimasinya tidak ditopang oleh sanad keilmuan atau metodologi teologis (ushul fiqh), melainkan oleh kapitalisme atensi, karisma visual, dan metrik algoritmik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komodifikasi agama dan lahirnya simulakra kesalehan memicu relativisme kebenaran, di mana otentisitas tafsir tereduksi oleh konten instan. Artikel ini menyimpulkan perlunya hibridisasi antara epistemologi tradisional dan literasi media baru agar diskursus keagamaan tidak kehilangan kedalaman substansinya di tengah arus postmodernitas.
TRANSFORMASI SPIRITUAL PEMUDA DI MAJELIS MUHIBBURRASUL KOTA PADANG: KAJIAN FENOMENOLOGIS TENTANG PRAKTIK KEAGAMAAN PERKOTAAN Reo Chandrika; Nelmaya Nelmaya
JURNAL AL-AQIDAH Vol 17, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/ja.v17i1.12587

Abstract

This study explores the spiritual transformation of youth in the Majelis Muhibburrasul (Muhibbur Rasul) in Padang City using a phenomenological approach, based on the logotherapy theory developed by Viktor Frankl. This study highlights the search for the meaning of life and freedom in existence. This study reveals how youth experience transformation in self-management, the depth of spiritual meaning, and social interaction in the complex urban environment. The findings of this study indicate that participation in the assembly serves as a primary means for youth to find the meaning of life, increase their spiritual awareness, and strengthen their freedom in determining existential attitudes and responsibilities amidst the various challenges faced in the city. These results contribute to theory by emphasizing the importance of the spiritual dimension according to Frankl in religious practices in urban environments.