Artikel ini mengkaji institusionalisasi pendidikan Islam pada masa kesultanan di Nusantara dengan fokus pada studi komparatif antara kesultanan-kesultanan di Sumatera (Samudera Pasai dan Aceh Darussalam) dan kesultanan-kesultanan di Jawa (Demak dan Mataram Islam). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berupa studi kepustakaan dengan pendekatan historis-komparatif; data dihimpun dari sumber primer dan sekunder kemudian dianalisis melalui kritik sumber dan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesultanan di Sumatera mengembangkan model kelembagaan yang terstruktur dan berjenjang (meunasah, rangkang, dan dayah) yang menyatu erat dengan struktur pemerintahan serta jaringan keilmuan Timur Tengah, sedangkan kesultanan di Jawa mengandalkan model masjid-pesantren yang lebih cair dan organik, digerakkan oleh peran wali dan kiai serta berorientasi pada akulturasi budaya. Meskipun berbeda pola, kedua kawasan memiliki fondasi yang sama, yaitu sinergi antara sultan dan ulama dalam melembagakan keilmuan Islam. Temuan komparatif ini memberi pemahaman yang lebih utuh mengenai keragaman regional yang mendasari akar sejarah pendidikan Islam di Indonesia.
Copyrights © 2026