Artikel ini menganalisis fungsi-fungsi sosial salah satu makian dalam bahasa Indonesia informal, yakni anjing, yang telah memiliki varian dan subvarian bentuk fonemis-grafemis berdasarkan korpus LCC Indonesia di CQPweb. Penelitian ini menggunakan teknik studi pustaka untuk menginventarisasi varian makian dari sumber-sumber ilmiah dan publikasi media massa. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terdapat 31 varian bentuk dari kata makiananjing, termasuk varian, subvarian, dan subsubvarian. Modifikasi tersebut terbentuk melalui berbagai cara, seperti substitusi vokal dan konsonan, penghilangan fonem-grafem, dan pembentukan akronim. Selain itu, artikel ini juga menguraikan fungsi dari modifikasi tersebut, antara lain untuk penyamaran, penyematan nuansa lain, penghematan, pelemahan, dan penegasan makian. Penelitian ini mengindikasikan bahwa dari perspektif sosiolinguistik, penggunaan makian, terutama pada ragamyang bersifat temporer akan mengalami perubahan seiring waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar varian dan subvarian anjing berumur relatif singkat, dengan anjir sebagai varian tertua yang terekam sejak 2010 dan anjay sebagai varian yang bertahan paling lama hingga 2022. Secara pragmatis, fungsi varian dan subvarian anjing meliputi umpatan, ekspresi ketidaksukaan, keterkejutan, keheranan, kesenangan, ketakjuban, dan sapaan keakraban. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa kajian fungsi sosial makian berbasis korpus dapat memperkaya pemahaman sosiopragmatik tentang dinamika ragamkolokial Indonesia dan relevansinya bagi penelitian linguistik korpus serta pengembangan teori perubahan bahasa informal.
Copyrights © 2026