Artikel ini mengeksplorasi pergeseran paradigma dakwah dari dimensi tekstual-oral ke dominasi rezim visual dalam lanskap media kontemporer, dengan mengambil film Siksa Kubur (2024) karya Joko Anwar sebagai objek analisis. Menggunakan kerangka pemikiran Annette Kuhn dalam The Power of the Image (1985) yang diintegrasikan dengan epistemologi dakwah Islam, penelitian ini mendekonstruksi bagaimana citra visual merekonstruksi konsep eskatologi Islam yang bersifat ghaib menjadi fenomena empiris-sensorik. Pendekatan yang digunakan adalah analisis wacana kritis (critical discourse analysis) dengan perspektif sinematik-teologis. Hasil analisis menunjukkan tiga temuan utama: pertama, mekanisme rekonstruksi realitas ghaib ke empiris melalui sinematografi klaustrofobik; kedua, sensor sebagai produksi makna dan manifestasi kaidah Sadd adz-Dzari'ah; ketiga, krisis politik tatapan (the gaze) yang berbenturan dengan etika representasi Islam yakni Ghadul Bashar dan Hifzh al-Din. Artikel ini menyimpulkan bahwa integrasi nilai Ihsan dan etika representasi profetik diperlukan untuk mentransformasi kekuatan citra menjadi wasilah dakwah yang membebaskan, bukan sekadar fetisisme religi yang tunduk pada logika komodifikasi pasar.
Copyrights © 2026