Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kompleksitas konflik di Papua yang bersifat multidimensional, mencakup aspek keamanan, sosial, budaya, sejarah, dan psikologis masyarakat. Kondisi tersebut menuntut pendekatan yang tidak hanya mengandalkan hard power, tetapi juga memadukannya dengan soft power melalui komunikasi sosial, pembinaan teritorial, pelayanan masyarakat, dan pembangunan kepercayaan Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi strategi Smart Power dalam operasi wilayah konflik di Papua, mengidentifikasi faktor-faktor penghambat, serta merumuskan strategi penguatan yang efektif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan kunci dari unsur TNI, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat, serta didukung oleh studi dokumentasi dan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Smart Power telah dilaksanakan melalui kombinasi operasi pengamanan, pembinaan teritorial, komunikasi sosial, dan pendekatan humanis kepada masyarakat. Namun, pelaksanaannya belum sepenuhnya optimal karena masih terdapat keterbatasan sumber daya dan infrastruktur, belum meratanya pemahaman personel terhadap konteks sosial budaya Papua, resistensi dan ketidakpercayaan masyarakat, lemahnya koordinasi lintas sektor, serta fragmentasi struktur birokrasi. Penguatan implementasi diarahkan pada integrasi perencanaan hard power dan soft power, peningkatan kapasitas personel, penguatan koordinasi antara satuan operasi dan satuan kewilayahan, penyusunan mekanisme kerja bersama, serta kesinambungan program nonmiliter. Penelitian menyimpulkan bahwa strategi Smart Power relevan diterapkan dalam operasi wilayah konflik di Papua, tetapi efektivitasnya bergantung pada konsistensi pelaksanaan, ketepatan pemilihan instrumen, koordinasi antar pemangku kepentingan, dan dukungan sumber daya yang memadai.
Copyrights © 2026