Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Strategi Kesdam IV/Diponegoro Dalam Rangka Peningkatan Kesehatan Prajurit Guna Mendukung Pelaksanaan Tugas Operasi Disen Fajar; Suradi AS; Sugiri
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.8838

Abstract

Kesehatan prajurit merupakan faktor strategis yang menentukan kesiapan personel dan keberhasilan pelaksanaan tugas operasi militer. Secara normatif, sistem kesehatan militer harus mampu menyelenggarakan pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara terpadu guna menjamin kesiapan fisik dan mental prajurit. Namun, kondisi aktual menunjukkan masih meningkatnya penyakit tidak menular pada prajurit usia produktif, tingginya tekanan fisik dan mental selama operasi, keterbatasan fasilitas kesehatan di beberapa wilayah, serta belum optimalnya pemanfaatan teknologi kesehatan dan sistem monitoring kesehatan. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Kesdam IV/Diponegoro dalam mewujudkan sistem kesehatan militer yang adaptif dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi kesehatan prajurit, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat implementasi strategi kesehatan, serta merumuskan Pendekatan Model TRISAKTI MIL MED (Military Medical Strategic Synergy) dalam meningkatkan kesehatan prajurit di Kesdam IV/Diponegoro. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis penelitian menggunakan Teori Strategi Michael E. Porter (1996), Teori Strategi Clausewitz (1976), Teori Manajemen Krisis Kesehatan, Perry dan Lindell (2020), Evidence-Based Military Health Strategy oleh Adam et al. (2020), dan Preventive Military Medicine oleh Smith dan Roberts (2020). Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi kesehatan prajurit telah dilaksanakan melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara terpadu dengan dukungan komando, organisasi kesehatan, tenaga kesehatan, serta perkembangan teknologi kesehatan. Adapun kendala yang dihadapi meliputi keterbatasan fasilitas kesehatan, meningkatnya penyakit tidak menular, belum optimalnya digitalisasi layanan kesehatan, serta tekanan fisik dan mental selama operasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pendekatan Model TRISAKTI MIL MED mampu memperkuat sistem kesehatan militer melalui penguatan kesehatan preventif, dukungan kesehatan operasional, serta pembangunan ketahanan fisik dan mental prajurit secara berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan modernisasi sistem kesehatan militer, optimalisasi teknologi kesehatan, penguatan layanan preventif dan kesehatan mental, serta peningkatan kolaborasi kesehatan sipil dan militer untuk mendukung kesiapan operasi secara berkelanjutan.
Implementasi Strategi Smart Power Dalam Operasi Wilayah Konflik di Papua Hermandus Cahyo Nugroho; Suradi AS; Sugiri
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.8849

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kompleksitas konflik di Papua yang bersifat multidimensional, mencakup aspek keamanan, sosial, budaya, sejarah, dan psikologis masyarakat. Kondisi tersebut menuntut pendekatan yang tidak hanya mengandalkan hard power, tetapi juga memadukannya dengan soft power melalui komunikasi sosial, pembinaan teritorial, pelayanan masyarakat, dan pembangunan kepercayaan Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi strategi Smart Power dalam operasi wilayah konflik di Papua, mengidentifikasi faktor-faktor penghambat, serta merumuskan strategi penguatan yang efektif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan kunci dari unsur TNI, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat, serta didukung oleh studi dokumentasi dan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Smart Power telah dilaksanakan melalui kombinasi operasi pengamanan, pembinaan teritorial, komunikasi sosial, dan pendekatan humanis kepada masyarakat. Namun, pelaksanaannya belum sepenuhnya optimal karena masih terdapat keterbatasan sumber daya dan infrastruktur, belum meratanya pemahaman personel terhadap konteks sosial budaya Papua, resistensi dan ketidakpercayaan masyarakat, lemahnya koordinasi lintas sektor, serta fragmentasi struktur birokrasi. Penguatan implementasi diarahkan pada integrasi perencanaan hard power dan soft power, peningkatan kapasitas personel, penguatan koordinasi antara satuan operasi dan satuan kewilayahan, penyusunan mekanisme kerja bersama, serta kesinambungan program nonmiliter. Penelitian menyimpulkan bahwa strategi Smart Power relevan diterapkan dalam operasi wilayah konflik di Papua, tetapi efektivitasnya bergantung pada konsistensi pelaksanaan, ketepatan pemilihan instrumen, koordinasi antar pemangku kepentingan, dan dukungan sumber daya yang memadai.
STRATEGI PEMANFAATAN TEKNOLOGI DRONE BATALYON INTAI TEMPUR KOSTRAD DALAM PENUGASAN DI PAPUA Wahyu Dwi Kriswanto; Suradi Agung Slamet; Sugiri Sugiri
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 13, No 3 (2026): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v13i3.2026.848-856

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis secara mendalam penggunaan wahana udara tanpa awak atau drone, mengidentifikasi berbagai faktor friksi di lapangan, serta merumuskan cetak biru strategi pemanfaatannya oleh Batalyon Intai Tempur (Yontaipur) Kostrad guna mendukung keberhasilan operasi militer di wilayah Papua. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus deskriptif analitis. Pengumpulan data dilaksanakan secara triangulatif melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif non-aktif, dan studi dokumentasi terkait inventaris logistik. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa drone multi-rotor berfungsi krusial sebagai instrumen pengganda kekuatan untuk keperluan pengintaian taktis dan perlindungan pasukan, yang secara absolut memangkas siklus kognitif pengambilan keputusan komandan di daerah rawan penyergapan. Meskipun demikian, optimalisasi teknologi modern ini terhambat oleh friksi alam seperti anomali cuaca ekstrem, topografi perbukitan karst yang memutus transmisi sinyal elektromagnetik, keterbatasan sumber daya manusia organik bersertifikasi, ketiadaan rantai pasok logistik suku cadang yang otonom, serta adaptasi taktik musuh. Strategi pemanfaatan drone kemudian diformulasikan menggunakan pendekatan keseimbangan strategis yang koheren, yang bermuara pada tujuan akhir integrasi peperangan berbasis jaringan, pemenuhan sumber daya melalui modernisasi spesifikasi militer dan legalisasi unit organik, serta penentuan cara bertindak melalui pembakuan doktrin dan prosedur standar operasi untuk manuver di medan ekstrem.
Strategy of the Nuclear, Biological, and Chemical Detachment in Responding to a Novel Disease Pandemic (A Case Study of Assistance Operations in Natuna in 2020) Robert Eryanto Tumanggor; Sigit Purwanto; Sugiri
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 2 (2026): Desember 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i2.8936

Abstract

Novel disease pandemics have demonstrated that biological threats can significantly affect national stability, public health, and national resilience. Normatively, the Nuclear, Biological, and Chemical Engineering Detachment (Denzinubika), as the Chemical, Biological, Radiological, and Nuclear (CBRN) unit of the Indonesian Army, is expected to possess optimal capabilities in supporting Military Operations Other Than War (MOOTW) for pandemic response. However, the implementation of assistance operations is still influenced by various internal and external factors that affect the effectiveness of the unit’s mission. This study aims to analyze these factors and formulate strategies for enhancing Denzinubika’s capabilities in addressing future biological threats. This study employed a qualitative descriptive method, with data collected through interviews, document studies, and field observations. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman model, consisting of data collection, data reduction, data display, and conclusion drawing. The analytical framework used in this study includes the Ends-Ways-Means Strategy Theory of Arthur F. Lykke Jr. (1989), Defense Theory of Barry Buzan (1991), Capacity Building Theory of Grindle (1997), and Military Readiness Theory of James J. Tritten (1994).The findings indicate that the factors influencing pandemic assistance operations include personnel competence, CBRN capabilities and equipment, organizational structure, operational experience, policy support, technological development, cross-sector cooperation, and the dynamics of biological threats. The required strategies include strengthening organizational capacity, improving personnel capabilities, modernizing CBRN facilities and infrastructure, and enhancing cooperation and interoperability. The study concludes that strengthening organizational capacity and integrated operational readiness are key factors in ensuring Denzinubika’s effectiveness in responding to novel disease pandemics.