Kepulauan Riau sebagai wilayah perbatasan strategis menghadapi tantangan ketahanan pangan yang kompleks, diperparah oleh keberadaan ribuan hektar lahan eks-tambang bauksit yang terbengkalai dan tidak produktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I (Kogabwilhan I) dalam mendukung ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan eks-tambang bauksit di Tanjung Moco, Pulau Dompak, guna mewujudkan ketahanan wilayah di Kepulauan Riau. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan perwira staf Kogabwilhan I dan petani lokal, observasi lapangan selama kurang lebih tiga bulan, serta studi dokumentasi terhadap laporan kegiatan dan kebijakan terkait. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kogabwilhan I menjalankan tiga peran strategis berdasarkan teori Ryaas Rasyid, yakni sebagai regulator melalui penetapan kebijakan internal dan penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) BIOS 44 untuk rehabilitasi lahan sebagai dinamisator melalui penggerakkan kelompok tani, pembangunan kesadaran kolektif, dan sinergi lintas sektor, serta sebagai fasilitator melalui penyediaan sarana produksi, infrastruktur irigasi, pelatihan teknis, dan penguatan kelembagaan petani. Program ini berkontribusi pada empat pilar ketahanan pangan FAO, yaitu ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas pangan, sekaligus memperkuat ketahanan wilayah secara multidimensi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi Operasi Militer Selain Perang (OMSP) oleh Kogabwilhan I terbukti efektif sebagai model pertahanan berbasis ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Copyrights © 2026