Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pemahaman mahasiswa mengenai radikalisme, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya, serta mengkaji peran media sosial dalam membentuk persepsi tersebut. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan mahasiswa dari empat perguruan tinggi di Jabodetabek (UI, UNAS, POLIMEDIA, dan UIN Jakarta). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memandang radikalisme tidak hanya sebagai kekerasan fisik, melainkan sebagai ideologi ekstrem, intoleran, fanatisme berlebihan, dan pemaksaan kehendak. Faktor internal seperti pemahaman agama yang dangkal juga dapat memicu radikalisme, sementara kemampuan berpikir kritis menjadi bentuk pertahanan utama. Secara eksternal, lingkungan keluarga dan teman sebaya berfungsi sebagai agen pencegah yang efektif. Di dunia digital, media sosial sangat memengaruhi cara pandang mahasiswa karena sistem algoritma yang terus menampilkan konten serupa dan adanya pengaruh opini dari para influencer. Namun, kapasitas intelektual dan kemampuan menyaring informasi yang baik membuat mahasiswa tetap berhati-hati dengan selalu memeriksa kebenaran berita sebelum menarik kesimpulan.
Copyrights © 2026