Kesenjangan antara penguasaan teori keagamaan (knowing) dan pengamalannya dalam perilaku nyata (doing) merupakan tantangan mendasar dalam Pendidikan Agama Islam (PAI). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi model pembelajaran berdasarkan pengalaman (experiential learning) dalam pembelajaran PAI di Dayah MUDI 2 Samalanga, Kabupaten Bireuen, serta mengkaji kontribusinya terhadap peningkatan pemahaman beragama santri secara holistik (kognitif, afektif, dan psikomotorik). Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif, pengumpulan data dilakukan selama empat bulan (Februari–Mei 2026) melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap pimpinan dayah, 3 guru PAI, dan 16 santri, serta studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña dengan keabsahan data diuji melalui triangulasi dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi experiential learning dilaksanakan secara terstruktur melalui empat tahapan siklus Kolb: (1) pengalaman konkret (concrete experience) melalui praktik ibadah khusyuk, bermain peran masalah sosial, dan pengamatan alam; (2) observasi reflektif (reflective observation) melalui diskusi kelompok kecil dan buku refleksi harian; (3) konseptualisasi abstrak (abstract conceptualization) melalui pendalaman makna dan diskusi interaktif; serta (4) eksperimen aktif (active experimentation) melalui penerapan nilai tahaarah dalam aksi lingkungan, kepemimpinan ibadah, dan kegiatan sosial. Model ini terbukti secara signifikan meningkatkan pemahaman keagamaan santri, menumbuhkan kesadaran moral, serta mendorong internalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan dayah, keluarga, dan masyarakat. Faktor pendukung utama meliputi kompetensi guru, kepemimpinan kepala madrasah yang terbuka, dan etos budaya dayah yang menyatukan ilmu dan amal, sedangkan kendala yang dihadapi berupa alokasi waktu yang relatif lama dan keterbatasan sarana pembelajaran berbasis pengalaman.
Copyrights © 2026