Provinsi Banten menyimpan paradoks pembangunan: pertumbuhan ekonomi makro yang terus melaju sementara kesenjangan antarwilayah justru semakin melebar. Penelitian ini menganalisis secara komparatif ketimpangan pembangunan antara kawasan Banten Utara meliputi Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Serang, Kota Cilegon, dan Kabupaten Serang dengan kawasan Banten Selatan yang terdiri dari Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak, menggunakan tiga dimensi indikator secara terintegrasi: ekonomi, sosial, dan infrastruktur. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-komparatif berbasis data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dokumen Rancangan Awal RPJMD Provinsi Banten 2025–2029, serta merujuk pada kajian ilmiah yang telah melakukan analisis kuantitatif atas data yang sama. Hasil analisis menunjukkan bahwa Banten Utara mendominasi sekitar 91 persen kontribusi PDRB provinsi, memiliki Indeks Pembangunan Manusia yang lebih tinggi, didukung infrastruktur yang lebih memadai, dan menjadi pusat konsentrasi industri modern. Sebaliknya, Banten Selatan tertinggal di seluruh dimensi: bergantung pada sektor primer bernilai tambah rendah, mencatat angka kemiskinan lebih tinggi, dan memiliki akses infrastruktur dasar yang terbatas. Indeks Williamson yang dihitung oleh Suparta et al. (2026) dari data BPS secara konsisten berada pada kisaran 0,764–0,772 sepanjang 2020–2024, mengonfirmasi bahwa ketimpangan ini tergolong sangat tinggi dan cenderung divergen.
Copyrights © 2026