Indonesia memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi, dan Kabupaten Gayo Lues, khususnya Kecamatan Blangkejeren, termasuk wilayah rawan banjir dan tanah longsor yang kerap menimbulkan korban luka. Keterbatasan tenaga kesehatan serta rendahnya pengetahuan masyarakat tentang perawatan luka—termasuk kebiasaan menggunakan bahan tradisional seperti abu dan daun-daunan yang berisiko infeksi—menjadi masalah utama di tiga desa sasaran (Palok, Agusen, dan Tetinggi). Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga dalam perawatan luka sederhana pascabencana guna memperkuat kesiapsiagaan berbasis komunitas. Metode pelaksanaan mengintegrasikan tiga tahap, yaitu edukasi ceramah interaktif, demonstrasi oleh tenaga ahli, dan redemonstrasi mandiri oleh peserta, yang dilaksanakan selama tiga hari di tiga desa dengan total 60 peserta. Evaluasi dilakukan melalui pre-test–post-test pengetahuan (20 soal) dan lembar observasi keterampilan (15 indikator). Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan rata-rata skor pengetahuan dari 42,3 menjadi 80,5 (peningkatan 90,3%; uji Paired Sample T-Test, p = 0,000), serta 72% peserta mampu melakukan perawatan luka dengan benar, keduanya melampaui target keberhasilan 70%. Pendekatan community-based yang memadukan edukasi, demonstrasi, dan redemonstrasi terbukti efektif meningkatkan kapasitas masyarakat di daerah rawan bencana dengan akses layanan kesehatan terbatas. Program ini direkomendasikan untuk direplikasi dan diintegrasikan ke dalam Rencana Penanggulangan Bencana desa guna keberlanjutan kesiapsiagaan masyarakat.
Copyrights © 2026