Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah melahirkan bentuk interaksi baru antara manusia dan mesin, termasuk dalam ranah emosional dan sosial. Salah satu fenomena yang menonjol adalah meningkatnya praktik konsultasi emosional dan sosial oleh Generasi Z melalui platform AI generatif seperti ChatGPT. Fenomena ini menunjukkan bahwa ChatGPT tidak lagi diposisikan semata sebagai alat pencari informasi, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang sosial alternatif yang berperan dalam ekosistem kehidupan Gen Z. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan ChatGPT oleh Gen Z sebagai ruang konsultasi emosional dan sosial, serta memahami motif, pengalaman interaksi, dan bentuk dukungan sosial yang dicari oleh penggunanya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi dalam perspektif sosiologi digital. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap mahasiswa Generasi Z berusia 20–23 tahun di Kota Semarang yang aktif menggunakan ChatGPT. Analisis data dilakukan dengan menelusuri makna subjektif pengalaman pengguna dalam berinteraksi dengan AI sebagai entitas non-manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gen Z memanfaatkan ChatGPT untuk memperoleh solusi praktis atas permasalahan personal, validasi emosional, serta kenyamanan psikologis yang dirasakan aman karena minimnya stigma dan penilaian sosial. ChatGPT dipersepsikan sebagai ruang netral yang responsif, mudah diakses, dan memberikan rasa kontrol atas proses konsultasi. Temuan ini mengindikasikan pergeseran pola pencarian dukungan sosial pada Gen Z, dari relasi interpersonal konvensional menuju interaksi berbasis teknologi AI, yang berimplikasi pada dinamika relasi sosial dan kesehatan mental di era digital.
Copyrights © 2026