Di era disrupsi, madrasah berbasis pesantren menghadapi paradoks antara pemeliharaan identitas tradisional dan tuntutan standardisasi mutu global. Penelitian ini bertujuan mendekonstruksi arsitektur manajemen kurikulum hibrida sebagai strategi peningkatan mutu pada dua madrasah distingtif di Jawa Timur. Menggunakan desain studi kasus multisitus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Temuan menunjukkan bahwa manajemen inovasi dilakukan melalui modifikasi siklus POAC yang mengintegrasikan strategi Integrasi Nilai (penguatan turats) dan Diversifikasi Fungsional (kurikulum vokasi). Rekayasa organisasi dilakukan melalui unit penjamin mutu ad-hoc, sementara implementasi kurikulum mengadopsi hibridasi metodologis yang memadukan teknik sorogan/bandongan dengan Project-Based Learning. Pengendalian mutu berpijak pada standar ganda: akuntabilitas profesional-akademik dan transendental-spiritual. Studi ini menyimpulkan bahwa efektivitas manajemen kurikulum bergantung pada peran manajer sebagai cultural broker yang mendamaikan tradisi dan modernitas. Implikasi teoretis penelitian ini memperluas Teori Difusi Inovasi dan Total Quality Management (TQM) dengan mendefinisikan ulang mutu pendidikan Islam sebagai perpaduan kepuasan pelanggan dan kepatuhan ilahiah. Secara praktis, penelitian ini menawarkan peta jalan manajerial untuk mentransformasi beban kurikulum menjadi keunggulan kompetitif yang adaptif.
Copyrights © 2026