Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai perangkat kognitif yang membentuk pola pikir dan kesadaran budaya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran bahasa dalam membentuk pola pikir dan kesadaran budaya mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia melalui perspektif psikolinguistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap 12 mahasiswa PBSI Universitas HKBP Nommensen. Data dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan SaldaƱa melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa akademik dominan, bahasa daerah dipertahankan sebagai penanda identitas, sedangkan bahasa asing dan bahasa media sosial membentuk ruang negosiasi budaya. Kekayaan kosakata membantu mahasiswa menyusun gagasan secara kritis dan reflektif, sementara keterbatasan kosakata menghambat pengungkapan gagasan kompleks. Implikasinya, pembelajaran PBSI perlu mengintegrasikan literasi akademik, bahasa daerah, dan refleksi digital.
Copyrights © 2026