Retrofit gedung eksisting semakin penting karena banyak bangunan lama dirancang berdasarkan standar yang tidak lagi sepenuhnya sejalan dengan tuntutan keselamatan gempa, keberlanjutan, efisiensi energi, dan kelayakan operasional proyek. Meskipun kajian retrofit telah berkembang, pembahasan masih sering terpisah antara efektivitas teknis struktur dan dimensi manajemen proyek seperti biaya, jadwal, constructability, risiko, keselamatan kerja, serta gangguan terhadap pengguna bangunan. Artikel ini bertujuan memetakan strategi retrofit gedung eksisting berdasarkan dua perspektif utama, yaitu kinerja struktur dan kelayakan proyek, serta merumuskan kerangka keputusan terintegrasi yang relevan bagi konteks Indonesia. Metode yang digunakan adalah scoping review dengan mengacu pada kerangka Arksey dan O’Malley, pengembangan Levac et al., pedoman JBI, serta prinsip pelaporan PRISMA-ScR. Literatur ditelusuri secara purposif melalui ScienceDirect, SpringerLink, MDPI, Google Scholar, Crossref, DOAJ, ASCE, NIST, FEMA, BSN, dan sumber ilmiah terkait dengan prioritas publikasi 2022-2025 serta standar teknis relevan. Sebelas studi inti dan beberapa dokumen standar dianalisis melalui charting table dan sintesis tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi retrofit dominan mencakup perkuatan lokal, perkuatan global, sistem kontrol respons, dan retrofit terintegrasi gempa-energi. Indikator kinerja struktur yang paling sering digunakan adalah simpangan antar tingkat, kekakuan, daktilitas, kapasitas lateral, indeks keselamatan, kerusakan nonstruktural, risiko, dan waktu pemulihan fungsi. Dari sisi manajemen proyek, faktor yang paling menentukan adalah akurasi investigasi awal, biaya daur hidup, durasi pelaksanaan, gangguan operasional, pengadaan material khusus, keselamatan kerja, koordinasi pemangku kepentingan, dan dukungan digital seperti BIM. Kajian ini menegaskan bahwa keputusan retrofit tidak cukup didasarkan pada peningkatan kapasitas struktur, tetapi perlu diseimbangkan dengan keterlaksanaan, nilai investasi, risiko implementasi, dan penerimaan pengguna bangunan. Artikel ini menawarkan kerangka evaluasi terintegrasi sebagai dasar pengembangan studi kasus, instrumen penilaian retrofit, dan model prioritas penanganan gedung eksisting di wilayah rawan gempa
Copyrights © 2026