Kemampuan membaca berperan penting dalam pengembangan kosakata dan pemahaman bacaan siswa, termasuk di Sekolah Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) yang menerapkan pembelajaran bilingual. Salah satu upaya yang dilakukan adalah program membaca 15 menit sebelum pembelajaran. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi program membaca 15 menit oleh guru serta perannya dalam mengembangkan kosakata dan pemahaman bacaan siswa di Sekolah Victory Plus. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi selama sepuluh pertemuan, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program membaca 15 menit terlaksana dengan tingkat keterlaksanaan sebesar 96%. Guru berperan sebagai fasilitator, motivator, model pembaca, serta pembimbing dan evaluator. Guru juga secara konsisten memperkenalkan kosakata baru dengan rata-rata 2,9 kata pada setiap pertemuan serta melakukan diskusi untuk mengukur pemahaman bacaan siswa. Kendala yang ditemukan ialah keterlibatan siswa yang belum optimal (80%) akibat keterbatasan ketersediaan buku bacaan. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan program membaca 15 menit lebih ditentukan oleh kualitas pendampingan guru daripada durasi kegiatan, serta memberikan gambaran empiris mengenai pelaksanaan program literasi di sekolah SPK.
Copyrights © 2026