ABSTRACT Sleep is a fundamental need for infants and plays a crucial role in growth and neurological development, particularly through the Rapid Eye Movement (REM) phase. This study aimed to explore the meaning, practice, and implications of the Bapukung tradition on infant sleep quality within the cultural context of the Banjar community. A qualitative study with an ethnographic-interpretative approach was conducted through in-depth interviews and participatory observation, with thematic analysis supported by NVivo 12 software. The findings indicate that Bapukung remains an enduring cultural practice, interpreted as a form of intergenerational care reflecting affection, emotional bonding, and spiritual values between mothers and infants. The practice of Bapukung creates a relatively stable and calm sleep condition, as infants consistently reached the REM phase during sleep sessions, with an average REM duration of approximately 41 minutes per session and a total sleep duration of about 84 minutes. This condition was supported by a quiet environment, gentle rhythmic swinging, and a stable body position, empirically observed through reduced motor activity, more regular breathing patterns, and relaxed facial expressions. In addition to physiological aspects, emotional and spiritual elements such as prayers and soft chanting were found to contribute to infants’ sense of security. However, the application of Bapukung requires careful consideration of infant safety and physical readiness, particularly neck muscle strength. In conclusion, Bapukung represents a form of local wisdom with potential as a non-pharmacological method to support infant sleep quality when practiced appropriately and safely. Keywords: Bapukung, Infant, Sleep Quality, Rapid Eye Movement (REM), Banjar Culture, Ethnography. ABSTRAK Tidur merupakan kebutuhan dasar bayi yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sistem saraf, khususnya melalui fase Rapid Eye Movement (REM). Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna, praktik, dan implikasi tradisi Bapukung terhadap kualitas tidur bayi dalam konteks budaya masyarakat Banjar. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi-interpretatif melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif, yang dianalisis secara tematik dengan bantuan perangkat lunak NVivo 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Bapukung masih eksis dan dimaknai sebagai praktik turun-temurun yang mencerminkan kasih sayang, kedekatan emosional, serta nilai spiritual antara ibu dan anak. Praktik Bapukung menciptakan kondisi tidur bayi yang relatif stabil dan tenang, ditandai dengan tercapainya fase REM secara konsisten selama sesi peniduran, dengan rata-rata durasi sekitar 41 menit per sesi dan total durasi tidur sekitar 84 menit per sesi. Kondisi ini didukung oleh lingkungan yang tenang, ritme ayunan yang lembut, serta posisi tubuh bayi yang stabil, yang secara empiris terlihat dari berkurangnya aktivitas motorik, pola napas yang lebih teratur, dan ekspresi wajah bayi yang relaks. Selain aspek fisiologis, praktik Bapukung juga mengandung dimensi emosional dan spiritual melalui doa dan lantunan lembut yang diyakini meningkatkan rasa aman bayi. Namun demikian, penerapan Bapukung perlu memperhatikan aspek keamanan dan kesiapan fisik bayi, khususnya kekuatan otot leher. Disimpulkan bahwa Bapukung merupakan kearifan lokal yang berpotensi menjadi metode peniduran nonfarmakologis yang mendukung kualitas tidur bayi apabila diterapkan secara tepat dan aman. Kata Kunci: Bapukung, Bayi, Kualitas Tidur, Rapid Eye Movement (REM), Budaya Banjar, Etnografi.
Copyrights © 2026