Erliana Puteri
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tradisi Bapukung Suku Banjar Dalam Asuhan Keperawatan Anak: Kajian Etnografi Interpretatif dan Analisis Efektivitas Siklus Tidur Rapid Eye Movement (Rem) Pada Bayi Erliana Puteri; Abdus Salam; Uswatun Hasanah; Khalidah Khalidah; Herman Ariadi; M. Irfan Naufal; Dian Yuliazahra
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i6.24928

Abstract

ABSTRACT Sleep is a basic need for infants and plays a crucial role in the development of the nervous, cognitive, and emotional systems, particularly during the Rapid Eye Movement (REM) phase. Among the Banjar people in South Kalimantan, the Bapukung tradition is still practiced as a method of lulling infants to sleep, passed down through generations and believed to provide a sense of security and calm. This study aims to examine the Bapukung tradition in the context of childcare through an interpretive ethnographic approach and its effectiveness on infant sleep quality, particularly during the REM phase. The study employed a qualitative design using in-depth interviews and participant observation with ten informants: mothers who practice Bapukung, health workers, traditional leaders, and village officials in Kuin Village, Banjarmasin. Data analysis was conducted thematically using NVivo 12 software. The results indicate that the Bapukung tradition still exists and is interpreted as a form of affection, protection, and spiritual practice in infant care. Physiologically, Bapukung positively contributes to infant sleep quality by helping infants fall asleep faster, maintaining a stable sleep duration, and increasing the proportion of REM sleep, which plays a crucial role in brain development and emotional regulation. This study concludes that the Bapukung tradition has the potential to be developed as a safe, effective, and contextual non-pharmacological intervention based on local wisdom to support infant health and development. Keywords: Bapukung, Banjar Tribe, Infant Sleep, Rapid Eye Movement (REM) Sleep, Pediatric Nursing, Local Wisdom.  ABSTRAK Tidur merupakan kebutuhan dasar bayi yang berperan penting dalam perkembangan sistem saraf, kognitif, dan emosional, terutama pada fase Rapid Eye Movement (REM). Pada masyarakat Suku Banjar di Kalimantan Selatan, tradisi Bapukung masih dipraktekkan sebagai metode menidurkan bayi yang diwariskan secara turun-temurun dan diyakini memberikan rasa aman serta ketenangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi Bapukung dalam konteks asuhan keperawatan anak melalui pendekatan etnografi interpretatif serta menganalisis efektivitasnya terhadap kualitas tidur bayi, khususnya fase REM. Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap sepuluh informan yang terdiri dari ibu pelaku Bapukung, tenaga kesehatan, tokoh adat, dan aparat desa di Desa Kuin, Banjarmasin. Analisis data dilakukan secara tematik dengan bantuan perangkat lunak NVivo 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Bapukung masih eksis dan dimaknai sebagai bentuk kasih sayang, perlindungan, serta praktik spiritual dalam pengasuhan bayi. Secara fisiologis, Bapukung berkontribusi positif terhadap kualitas tidur bayi dengan membantu bayi lebih cepat tertidur, mempertahankan durasi tidur yang stabil, serta meningkatkan proporsi fase REM yang berperan penting dalam perkembangan otak dan regulasi emosi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi Bapukung berpotensi dikembangkan sebagai intervensi keperawatan non farmakologis berbasis kearifan lokal yang aman, efektif, dan kontekstual dalam mendukung kesehatan dan tumbuh kembang bayi. Kata Kunci: Bapukung, Suku Banjar, Tidur Bayi, Rapid Eye Movement (Rem), Keperawatan Anak, Kearifan Lokal.
Makna dan Efektivitas Bapukung terhadap Kualitas Tidur Anak: Suatu Studi Kualitatif Berdasarkan Aktivitas Rapid Eye Movement (REM) Khalidah Khalidah; Uswatun Hasanah; Erliana Puteri; Dian Yuliazahra; M. Irfan Naufal; Herman Ariadi; Noor Khalilati; Izma Daud; Diah Retno
Jurnal Diversita Vol. 12 No. 1 (2026): JURNAL DIVERSITA JUNI
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v12i1.16361

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna dan efektivitas tradisi Bapukung terhadap kualitas tidur Anak, khususnya ditinjau dari aktivitas Rapid Eye Movement (REM). Bapukung merupakan praktik tradisional masyarakat Banjar dalam menidurkan bayi dengan cara membedong dan mengayun menggunakan kain khusus. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap lima informan ibu yang rutin melakukan Bapukung. Data dianalisis menggunakan pendekatan tematik berbasis teori tidur fisiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bapukung tidak hanya dimaknai sebagai bentuk kasih sayang dan warisan budaya, tetapi juga berperan dalam menciptakan rasa aman dan nyaman bagi bayi, sehingga mempermudah transisi menuju fase tidur REM. Aktivitas REM pada bayi yang dipukung rata-rata berlangsung lebih stabil dengan durasi antara 16 hingga 59 menit per hari, menunjukkan adanya peningkatan kualitas tidur dan kedalaman istirahat. Kesimpulannya, praktik Bapukung memiliki nilai fisiologis dan psikososial yang mendukung kualitas tidur anak, sekaligus mencerminkan kearifan lokal yang relevan dengan konsep neurofisiologi modern tentang tidur anak.
Praktik Bapukung dalam Mendukung Regulasi Emosi dan Ketenangan Bayi: Studi Etnografi pada Masyarakat Banjar Uswatun Hasanah; Erliana Puteri; Khalidah Khalidah; Herman Ariadi; Dian Yuliazahra; M. Irfan Naufal
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24751

Abstract

ABSTRACT Sleep is a fundamental need for infants and plays a crucial role in growth and neurological development, particularly through the Rapid Eye Movement (REM) phase. This study aimed to explore the meaning, practice, and implications of the Bapukung tradition on infant sleep quality within the cultural context of the Banjar community. A qualitative study with an ethnographic-interpretative approach was conducted through in-depth interviews and participatory observation, with thematic analysis supported by NVivo 12 software. The findings indicate that Bapukung remains an enduring cultural practice, interpreted as a form of intergenerational care reflecting affection, emotional bonding, and spiritual values between mothers and infants. The practice of Bapukung creates a relatively stable and calm sleep condition, as infants consistently reached the REM phase during sleep sessions, with an average REM duration of approximately 41 minutes per session and a total sleep duration of about 84 minutes. This condition was supported by a quiet environment, gentle rhythmic swinging, and a stable body position, empirically observed through reduced motor activity, more regular breathing patterns, and relaxed facial expressions. In addition to physiological aspects, emotional and spiritual elements such as prayers and soft chanting were found to contribute to infants’ sense of security. However, the application of Bapukung requires careful consideration of infant safety and physical readiness, particularly neck muscle strength. In conclusion, Bapukung represents a form of local wisdom with potential as a non-pharmacological method to support infant sleep quality when practiced appropriately and safely. Keywords: Bapukung, Infant, Sleep Quality, Rapid Eye Movement (REM), Banjar Culture, Ethnography.  ABSTRAK Tidur merupakan kebutuhan dasar bayi yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sistem saraf, khususnya melalui fase Rapid Eye Movement (REM). Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna, praktik, dan implikasi tradisi Bapukung terhadap kualitas tidur bayi dalam konteks budaya masyarakat Banjar. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi-interpretatif melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif, yang dianalisis secara tematik dengan bantuan perangkat lunak NVivo 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Bapukung masih eksis dan dimaknai sebagai praktik turun-temurun yang mencerminkan kasih sayang, kedekatan emosional, serta nilai spiritual antara ibu dan anak. Praktik Bapukung menciptakan kondisi tidur bayi yang relatif stabil dan tenang, ditandai dengan tercapainya fase REM secara konsisten selama sesi peniduran, dengan rata-rata durasi sekitar 41 menit per sesi dan total durasi tidur sekitar 84 menit per sesi. Kondisi ini didukung oleh lingkungan yang tenang, ritme ayunan yang lembut, serta posisi tubuh bayi yang stabil, yang secara empiris terlihat dari berkurangnya aktivitas motorik, pola napas yang lebih teratur, dan ekspresi wajah bayi yang relaks. Selain aspek fisiologis, praktik Bapukung juga mengandung dimensi emosional dan spiritual melalui doa dan lantunan lembut yang diyakini meningkatkan rasa aman bayi. Namun demikian, penerapan Bapukung perlu memperhatikan aspek keamanan dan kesiapan fisik bayi, khususnya kekuatan otot leher. Disimpulkan bahwa Bapukung merupakan kearifan lokal yang berpotensi menjadi metode peniduran nonfarmakologis yang mendukung kualitas tidur bayi apabila diterapkan secara tepat dan aman. Kata Kunci: Bapukung, Bayi, Kualitas Tidur, Rapid Eye Movement (REM), Budaya Banjar, Etnografi.