Tiga Kerajaan Besar Islam, yang terdiri dari Kesultanan Turki Usmani, Dinasti Safawi Persia, dan Dinasti Mughal India, merupakan pilar utama penyangga peradaban Islam pada periode pertengahan hingga awal modernitas. Meskipun lahir dalam kurun waktu yang berdekatan, ketiganya mengadopsi struktur institusi, strategi militer, dan orientasi teologis yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis komparatif mengenai karakteristik politik-militer serta membedah benang merah dari pola keruntuhan yang dialami oleh ketiga imperium tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah (historis-komparatif) yang meliputi empat tahapan sistematis, yaitu heuristik, verifikasi atau kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan politik-militer ketiga kerajaan ditopang oleh korps militer elite yang adaptif terhadap teknologi senjata api, seperti pasukan Janissary di Usmani, Ghulam di Safawi, dan sistem Mansabdari di Mughal. Namun, pola keruntuhan ketiganya memperlihatkan kemiripan struktural yang laten. Faktor internal berupa pembusukan birokrasi, konflik suksesi yang berkepanjangan, dan pembalikan kebijakan toleransi memicu runtuhnya kohesi sosial-politik dari dalam. Kerentanan internal ini diperparah oleh faktor eksternal berupa penetrasi kolonialisme Barat dan ketidakmampuan militer tradisional mereka dalam mengimbangi laju modernisasi industri global. Implikasi dari penelitian ini menegaskan bahwa kejatuhan sebuah peradaban besar tidak bersifat tunggal, melainkan akibat dari kegagalan adaptasi struktural terhadap dinamisnya konstelasi geopolitik zaman
Copyrights © 2026