Infeksi kecacingan masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya di daerah dengan sanitasi yang kurang memadai. Infeksi ini tidak hanya menyebabkan gangguan saluran pencernaan, tetapi juga berkontribusi terhadap terjadinya anemia melalui kehilangan zat besi dan proses inflamasi kronis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar Fe serum dengan kadar C-Reactive Protein (CRP) pada masyarakat yang terinfeksi kecacingan di Kampung Selayar, Kota Makassar. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik observasional melalui pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 15 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan feses untuk mengidentifikasi infeksi kecacingan serta pemeriksaan darah vena untuk mengukur kadar Fe serum dan kadar CRP. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan tingkat signifikansi α = 0,10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Fe serum pada responden cenderung menurun, sedangkan kadar CRP meningkat sebagai respons inflamasi akibat infeksi kecacingan. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kadar Fe serum dengan kadar C-Reactive Protein (CRP) dengan nilai signifikansi sebesar p = 0,008 (p < 0,10). Temuan ini menunjukkan bahwa proses inflamasi pada infeksi kecacingan berperan dalam memengaruhi metabolisme zat besi sehingga meningkatkan risiko anemia. Oleh karena itu, pemeriksaan Fe serum dan CRP dapat digunakan sebagai indikator dalam menilai status zat besi dan respons inflamasi, serta menjadi dasar dalam penyusunan strategi pencegahan dan pengendalian infeksi kecacingan di masyarakat.
Copyrights © 2026