Marisca Jenice Sanaky
Politeknik Sandi Karsa Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Kadar Fe Serum Dengan Kadar C-Reactive Protein (CRP) Pada Infeksi Kecacingan Di Wilayah Kampung Selayar Kota Makassar Nur Ainun Nisa Thahir; Marisca Jenice Sanaky; Nur Ismi
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.11851

Abstract

Infeksi kecacingan masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya di daerah dengan sanitasi yang kurang memadai. Infeksi ini tidak hanya menyebabkan gangguan saluran pencernaan, tetapi juga berkontribusi terhadap terjadinya anemia melalui kehilangan zat besi dan proses inflamasi kronis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar Fe serum dengan kadar C-Reactive Protein (CRP) pada masyarakat yang terinfeksi kecacingan di Kampung Selayar, Kota Makassar. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik observasional melalui pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 15 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan feses untuk mengidentifikasi infeksi kecacingan serta pemeriksaan darah vena untuk mengukur kadar Fe serum dan kadar CRP. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan tingkat signifikansi α = 0,10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Fe serum pada responden cenderung menurun, sedangkan kadar CRP meningkat sebagai respons inflamasi akibat infeksi kecacingan. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kadar Fe serum dengan kadar C-Reactive Protein (CRP) dengan nilai signifikansi sebesar p = 0,008 (p < 0,10). Temuan ini menunjukkan bahwa proses inflamasi pada infeksi kecacingan berperan dalam memengaruhi metabolisme zat besi sehingga meningkatkan risiko anemia. Oleh karena itu, pemeriksaan Fe serum dan CRP dapat digunakan sebagai indikator dalam menilai status zat besi dan respons inflamasi, serta menjadi dasar dalam penyusunan strategi pencegahan dan pengendalian infeksi kecacingan di masyarakat.
Hubungan Paparan Timbal/Plumbum (Pb) Dengan Kadar Kreatinin Pada Pekerja Bengkel Dengan Masa Kerja Di Bawah 3 Tahun Di Kota Makassar Helmy Apriyani; Marisca Jenice Sanaky; Army Dwi Israyanti
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.12000

Abstract

Pekerja bengkel memiliki risiko tinggi terpapar logam berat timbal (Pb) yang berasal dari emisi gas buang kendaraan, oli, dan bahan kimia lainnya. Paparan Pb secara kronis dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal yang ditandai dengan peningkatan kadar kreatinin dalam darah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara paparan Pb dengan kadar kreatinin pada pekerja bengkel dengan masa kerja dibawah 3 tahun di Kota Makassar. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 23 pekerja bengkel yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria masa kerja 3 tahun. Kadar Pb diukur menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), sedangkan kadar kreatinin diukur dengan metode fotometri. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar Pb responden adalah 0,0000 mg/L dan rata-rata kadar kreatinin adalah 0,6478 mg/dL. Uji statistik menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar -0,266 dengan nilai p-value 0,220 (p > 0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara paparan Pb dengan kadar kreatinin pada pekerja bengkel di Kota Makassar dalam penelitian ini. Meskipun demikian, pemantauan kesehatan berkala dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) tetap disarankan mengingat sifat akumulatif logam berat.