Evaluasi asesmen merupakan komponen sentral dalam menentukan keberhasilan pembelajaran matematika, namun asesmen formatif dan sumatif kerap diterapkan tanpa pemahaman yang jelas mengenai fungsi masing-masing. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana evaluasi asesmen formatif dan sumatif dikonsepkan, dibedakan, serta diimplementasikan dalam pembelajaran matematika, khususnya pada penerapan Kurikulum Merdeka di Indonesia. Metode yang digunakan adalah studi literatur kualitatif, dengan mengumpulkan, menyaring, dan mensintesis secara tematik publikasi nasional maupun internasional yang relevan dalam kurun lima tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa asesmen formatif berfungsi sebagai proses diagnostik berkelanjutan yang menghasilkan umpan balik secara terus-menerus, sehingga memungkinkan guru menyesuaikan strategi pembelajaran ketika peserta didik masih dalam proses membangun pemahaman matematis. Sebaliknya, asesmen sumatif dilaksanakan pada akhir periode pembelajaran untuk menentukan capaian terhadap standar kompetensi yang telah ditetapkan, dan hasilnya lazim digunakan untuk penilaian akhir, pelaporan, serta evaluasi kurikulum. Kajian ini juga menemukan bahwa banyak guru masih memperlakukan kedua jenis asesmen tersebut secara tumpang tindih, sehingga data formatif digunakan secara punitif sementara data sumatif diharapkan dapat menuntun keputusan pembelajaran harian. Evaluasi matematika yang efektif membutuhkan integrasi seimbang antara kedua jenis asesmen, didukung oleh instrumen yang valid, umpan balik yang tepat waktu, dan literasi asesmen guru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan pemahaman guru terhadap perbedaan konseptual dan fungsional antara asesmen formatif dan sumatif menjadi kunci peningkatan kualitas hasil belajar matematika.
Copyrights © 2026