Kesenjangan literasi digital di wilayah pedesaan di tengah pesatnya kemajuan teknologi memicu masalah kerentanan sosial dan ekonomi. Masyarakat desa, khususnya kelompok pemuda dan ibu rumah tangga, rentan menjadi target kejahatan pinjaman online (pinjol) ilegal dan penyebaran informasi palsu (hoaks). Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat melalui literasi digital sangat penting dan mendesak dilakukan untuk membangun ketahanan informasi dan finansial di tingkat akar rumput. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat Desa Baturejo melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR). Metode pelaksanaan mencakup tahap persiapan, intervensi melalui edukasi interaktif dan pendampingan praktik langsung (hands-on), serta evaluasi komparatif terhadap sasaran yang secara konsisten terdiri dari 20 pemuda Karang Taruna dan 10 ibu rumah tangga (total 30 partisipan). Hasil pengabdian menunjukkan pencapaian pada tiga aspek utama: (1) pemuda desa berhasil menguasai keterampilan mengoperasikan aplikasi CapCut untuk memproduksi konten video edukatif secara mandiri dengan tingkat kelulusan praktik mencapai 90%; (2) kesadaran finansial terhadap bahaya pinjaman online ilegal meningkat signifikan, ditandai dengan kenaikan skor pemahaman rata-rata dari 40% menjadi 85%; dan (3) menguatnya daya kritis analitis ibu rumah tangga dalam menyaring informasi untuk mencegah penyebaran hoaks dengan nilai post-test mencapai 92%. Sebagai kesimpulan, integrasi antara peningkatan keterampilan teknis dan edukasi literasi kritis melalui model PAR sangat efektif dalam menciptakan masyarakat desa yang berdaya, tangguh secara finansial, dan kebal terhadap disinformasi di era transformasi digital
Copyrights © 2026