Aceh dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Nusantara yang memiliki kekayaan intelektual berupa manuskrip dan hikayat bernafaskan Islam. Hikayat Aceh tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra klasik, tetapi juga menjadi media transmisi nilai-nilai keislaman, pendidikan moral, sejarah, kepemimpinan, dan identitas budaya masyarakat Aceh. Kandungan hikayat tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Aceh telah membangun tradisi literasi Islam yang kuat sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam. Oleh karena itu, Hikayat Aceh merupakan bagian penting dari warisan intelektual Islam Nusantara yang memiliki nilai historis, religius, dan akademik yang perlu dilestarikan secara berkelanjutan. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengevaluasi efektivitas model yang dikembangkan terhadap peningkatan literasi keislaman generasi muda. Pengukuran dilakukan melalui penyebaran angket, tes literasi keislaman (pretest–posttest), serta penilaian terhadap tingkat keberterimaan (acceptability) dan kemudahan penggunaan (usability) platform Digital Humanities. revitalisasi Hikayat Aceh melalui pendekatan Digital Humanities merupakan paradigma baru dalam pelestarian warisan intelektual Islam Nusantara. Selama ini, upaya pelestarian manuskrip lebih banyak berorientasi pada konservasi fisik, katalogisasi, dan penyimpanan arsip sehingga akses masyarakat terhadap kandungan intelektual manuskrip masih sangat terbatas.
Copyrights © 2026