Kemampuan literasi numerasi merupakan salah satu kompetensi esensial abad ke-21 yang menjadi tolak ukur kualitas pendidikan melalui Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Namun, rendahnya kemampuan bernalar dan memecahkan masalah kontekstual masih menjadi tantangan utama di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren, variasi integrasi, efektivitas, serta tantangan implementasi model Problem Based Learning (PBL) dalam memfasilitasi literasi numerasi siswa. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) berpedoman pada protokol PRISMA. Data dikumpulkan menggunakan Publish or Perish dari database Google Scholar dan SINTA, dimulai dari SINTA 1,2,3,4 dengan rentang tahun 2022–2026, yang menghasilkan 32 artikel relevan untuk diekstraksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Riset dominan dilakukan pada jenjang SMP dan SMA/SMK dengan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Kuasi-Eksperimen; (2) Implementasi PBL berkembang melalui inovasi integrasi dengan teknologi digital, pendekatan multidisiplin (STEM atau STEAM), dan kearifan lokal (etnomatematika dan media komik); (3) PBL terbukti sangat efektif dan signifikan dalam mendongkrak ketuntasan belajar serta skor rata-rata literasi numerasi dibandingkan metode konvensional. Meski demikian, penerapan PBL masih dihadapkan pada tantangan pedagogis berupa rendahnya kemampuan awal dan literasi membaca siswa (memicu modeling paralysis), benturan dengan budaya belajar pasif, serta kesulitan merumuskan masalah pada materi berabstraksi tinggi. Kesimpulannya, PBL terbukti efektif mendongkrak literasi numerasi melalui integrasi inovatif, meski masih terkendala oleh ketidakmampuan pemodelan matematis siswa di tahap awal. Penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk berfokus pada strategi mitigasi pemodelan, eksplorasi domain afektif, dan integrasi asesmen berbasis gamifikasi virtual (metaverse).
Copyrights © 2026