Industri kopi siap minum (Ready To Drink/RTD) di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, dengan nilai pasar mencapai US$ 1,79 miliar pada tahun 2024 dan diproyeksikan tumbuh hingga US$ 3,55 miliar pada tahun 2033. Namun, pemilihan lokasi industri yang tepat merupakan faktor kritis yang belum banyak dikaji secara kuantitatif untuk produk kopi RTD berbasis gula aren. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lokasi industri kopi RTD yang paling optimal di antara tiga kandidat (Bandung, Bogor, dan Cirebon) menggunakan pendekatan kuantitatif multi-metode. Data dikumpulkan melalui kuesioner pembobotan kriteria dari responden yang relevan, mencakup lima kriteria utama: bahan baku, transportasi, tenaga kerja, biaya lahan, dan pasar. Analisis dilakukan menggunakan tiga metode, yaitu Metode Perbandingan Eksponensial (MPE), Metode Bayes, dan Metode Brown-Gibson. Hasil menunjukkan bahwa Metode MPE dan Bayes secara konsisten menempatkan Cirebon sebagai lokasi terpilih dengan skor masing-masing 77,00 dan 12,50, didorong oleh keunggulan pada kriteria bahan baku dan biaya lahan. Sementara itu, Metode Brown-Gibson menghasilkan Bandung sebagai lokasi terpilih dengan LPM 0,3634 karena keunggulan faktor subjektif tenaga kerja dan pasar. Divergensi hasil antar metode menunjukkan bahwa keputusan lokasi industri sangat bergantung pada prioritas strategis perusahaan: Cirebon optimal untuk fase startup yang berorientasi efisiensi biaya, sedangkan Bandung lebih strategis untuk penetrasi pasar urban jangka panjang.
Copyrights © 2026