p-Index From 2021 - 2026
1.048
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Karimah Tauhid
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Analisis Penetapan Lokasi Industri untuk Produk Kopi Siap Minum (Ready To Drink/RTD) Siti Amelia Fauziah; Delfitriani
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 7 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i7.25173

Abstract

Industri kopi siap minum (Ready To Drink/RTD) di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, dengan nilai pasar mencapai US$ 1,79 miliar pada tahun 2024 dan diproyeksikan tumbuh hingga US$ 3,55 miliar pada tahun 2033. Namun, pemilihan lokasi industri yang tepat merupakan faktor kritis yang belum banyak dikaji secara kuantitatif untuk produk kopi RTD berbasis gula aren. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lokasi industri kopi RTD yang paling optimal di antara tiga kandidat (Bandung, Bogor, dan Cirebon) menggunakan pendekatan kuantitatif multi-metode. Data dikumpulkan melalui kuesioner pembobotan kriteria dari responden yang relevan, mencakup lima kriteria utama: bahan baku, transportasi, tenaga kerja, biaya lahan, dan pasar. Analisis dilakukan menggunakan tiga metode, yaitu Metode Perbandingan Eksponensial (MPE), Metode Bayes, dan Metode Brown-Gibson. Hasil menunjukkan bahwa Metode MPE dan Bayes secara konsisten menempatkan Cirebon sebagai lokasi terpilih dengan skor masing-masing 77,00 dan 12,50, didorong oleh keunggulan pada kriteria bahan baku dan biaya lahan. Sementara itu, Metode Brown-Gibson menghasilkan Bandung sebagai lokasi terpilih dengan LPM 0,3634 karena keunggulan faktor subjektif tenaga kerja dan pasar. Divergensi hasil antar metode menunjukkan bahwa keputusan lokasi industri sangat bergantung pada prioritas strategis perusahaan: Cirebon optimal untuk fase startup yang berorientasi efisiensi biaya, sedangkan Bandung lebih strategis untuk penetrasi pasar urban jangka panjang.
Analisis Penetapan Lokasi Industri untuk Pengolahan Kopi Bubuk Arabika Nazwa Kamila; Delfitriani
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 7 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i7.25237

Abstract

Penentuan lokasi industri merupakan faktor penting dalam keberhasilan suatu usaha karena berpengaruh terhadap biaya produksi, distribusi, ketersediaan bahan baku, dan kelancaran operasional industri. Penelitian ini bertujuan menentukan lokasi terbaik industri kopi bubuk arabika menggunakan metode Bayes, Metode Perbandingan Eksponensial (MPE), dan Brown and Gibson. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif terhadap tiga alternatif lokasi yaitu Bogor, Bandung, dan Malang. Faktor penilaian yang digunakan meliputi kedekatan bahan baku, biaya transportasi, tenaga kerja, infrastruktur, kedekatan pasar, pemasokan peralatan, serta dukungan lingkungan dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Bayes menghasilkan Bogor sebagai lokasi terbaik dengan nilai 84,4. Sementara itu, metode MPE dan Brown and Gibson menghasilkan Malang sebagai lokasi terbaik dengan nilai masing-masing 12,44 dan 0,39775. Secara keseluruhan, Malang dinilai lebih optimal karena unggul dalam kedekatan bahan baku dan efisiensi biaya produksi.
Analisis Perencanaan Kebutuhan Luas Ruang dalam Industri Pengolahan Minyak Atsiri Cengkeh Muhamad Iman; Siti Rahmawati; Delfitriani
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 9 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i9.21239

Abstract

Industri pengolahan minyak atsiri cengkeh merupakan salah satu subsektor agroindustri yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpotensi besar di Indonesia. Meskipun demikian, efisiensi tata letak fasilitas produksi sering kali belum dioptimalkan, sehingga menimbulkan hambatan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan luas ruang dan merancang tata letak fasilitas produksi minyak atsiri cengkeh yang efisien. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan dari berbagai sumber pustaka mengenai spesifikasi mesin, proses produksi, efisiensi mesin, serta kebutuhan ruang berdasarkan luas alat, pergerakan operator, dan alur bahan. Analisis dilakukan dengan menghitung kapasitas input pada setiap tahapan produksi, efisiensi mesin, kebutuhan jumlah mesin, serta Total Closeness Rating (TCR) sebagai dasar penyusunan denah tata letak. Hasil menunjukkan bahwa kebutuhan total ruang produksi adalah sebesar 161,6 m². Tahap penyulingan diidentifikasi sebagai pusat aktivitas dengan efisiensi 0,985 dan tingkat defect tertinggi (10%), sehingga menjadi titik krusial dalam desain fasilitas. Tata letak optimal disusun berdasarkan nilai TCR dengan menempatkan ruang produksi sebagai pusat, disusul ruang gudang bahan baku dan ruang penyimpanan alat. Penelitian ini menyadari keterbatasan pada absennya data observasi lapangan, sehingga rancangan yang dihasilkan bersifat konseptual dan perlu divalidasi lebih lanjut. Implikasi dari penelitian ini dapat menjadi acuan awal bagi pelaku industri dalam merancang fasilitas produksi yang terintegrasi, efisien, dan mendukung pengembangan agroindustri berkelanjutan.
Perancangan Business Model Canvas (BMC) Produk Cookies di UMKM Mekar Pelangi Kurniadi; Delfitriani; Deni Hendarto
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 11 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i11.21711

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menyusun rancangan Business Model Canvas (BMC) pada produk cookies yang diproduksi UMKM Mekar Pelangi di Desa Cisalada, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Permasalahan utama yang dihadapi usaha ini adalah model bisnis yang berjalan belum optimal, sehingga diperlukan analisis dan penyusunan ulang berdasarkan sembilan elemen BMC. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi, wawancara, dan penyebaran kuesioner kepada 30 konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen utama berasal dari wilayah lokal dengan preferensi terhadap cookies bertekstur lembut dan harga yang terjangkau. Saluran distribusi masih terbatas melalui WhatsApp, tetapi terdapat peluang perluasan pemasaran lewat media sosial dan marketplace. Berdasarkan temuan lapangan, perbaikan BMC difokuskan pada penguatan proposisi nilai, peningkatan jaringan distribusi, dan penyusunan strategi hubungan pelanggan yang lebih sistematis. Rancangan BMC baru ini diharapkan dapat membantu UMKM Mekar Pelangi meningkatkan daya saing serta menjamin keberlanjutan usahanya.
Pengembangan Bisnis Produk Pudding Jelly Berbasis Serai (Cymbopogon citratus) dan Lemon sebagai Pangan Fungsional Beraroma Alami dengan Pendekatan Metode Business Model Canvas (BMC) Delfitriani; Saphira Aulia Effendi; Dinar Siti Maulida; Ratu Destri Fitria Nur Fadilah; Muhammad Ajriya Fadhullah; Arti Hastuti
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 4 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i4.23571

Abstract

Pengembangan produk pangan fungsional berbasis bahan lokal merupakan upaya strategis dalam meningkatkan nilai tambah pangan sekaligus mendukung pola konsumsi masyarakat yang lebih sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengembangan produk puding atau jelly berbahan dasar serai (Cymbopogon citratus) dan lemon sebagai produk pangan inovatif berbasis bahan lokal, dengan meninjau karakteristik sensori, tingkat penerimaan konsumen, potensi nilai fungsional, serta perancangan model bisnisnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan Business Model Canvas (BMC) sebagai alat analisis pengembangan model bisnis. Teknik pengumpulan data meliputi observasi pasar, survei atau kuesioner konsumen, uji organoleptik, serta studi literatur yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kombinasi serai dan lemon mampu menghasilkan produk puding/jelly dengan karakteristik sensori yang khas, berupa aroma herbal dan rasa citrus yang menyegarkan, serta berpotensi sebagai pangan fungsional karena kandungan senyawa bioaktif dan vitamin. Analisis menggunakan BMC menunjukkan bahwa produk ini memiliki proposisi nilai yang jelas, segmen pasar yang spesifik, serta peluang pengembangan usaha yang menjanjikan, khususnya bagi pelaku UMKM pangan. Dengan demikian, pengembangan puding atau jelly berbasis serai dan lemon berpotensi menjadi produk pangan fungsional bernilai tambah yang kompetitif dan berkelanjutan.
Pengembangan Bisnis Produk Teh Kecombrang menggunakan Pendekatan Business Model Canvas Fauzanna Ababil; Janitra Yasmine Habibi; Muhammad Ihqbal Hidayatullah; Sulthan Fadhil Farihin; Syaharani Fauzia; Tasya Apriliani; Delfitriani
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 5 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i5.24034

Abstract

Pengembangan bisnis minuman herbal berbasis bahan pangan lokal perlu didukung oleh perencanaan model bisnis yang terstruktur. Teh kecombrang jahe merupakan produk minuman herbal yang memiliki potensi untuk dikembangkan seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat. Tujuan penelitian ini, yakni untuk menganalisis dan memetakan pengembangan bisnis produk teh kecombrang menggunakan pendekatan Business Model Canvas. Deskriptif kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka dan wawancara. Analisis dilakukan berdasarkan sembilan elemen Business Model Canvas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teh kecombrang memiliki proposisi nilai berupa manfaat kesehatan, cita rasa khas, dan kemasan praktis. Segmen pelanggan utama adalah konsumen yang peduli kesehatan, khususnya kelompok usia produktif. Strategi pengembangan bisnis mencakup optimalisasi saluran distribusi, penguatan hubungan pelanggan, serta pengelolaan sumber daya dan biaya secara lebih efisien. Penerapan Business Model Canvas diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha teh kecombrang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Business Model Canvas dapat mendukung pengembangan bisnis teh kecombrang yang menjadi kebutuhan kesehatan masyarakat, karena dapat memberikan gambaran awal rancangan bisnis sesuai dengan masalah yang ingin diselesaikan. Kata Kunci: teh kecombrang, business model canvas, minuman herbal, pengembangan bisnis