Sastra kontemporer telah bertransformasi menjadi medium perjuangan ekologis guna menyuarakan kondisi alam yang terhimpit eksploitasi. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis manifestasi ekokritik dalam cerpen "Korban Karbon" karya WS Djambak yang membedah krisis lingkungan di Bengkalis, Riau. Masalah utama yang diangkat berfokus pada representasi kerusakan lingkungan multidimensional serta respons tokoh Ismail alias Babon terhadap krisis tersebut. Analisis ini menggunakan pendekatan ekokritik untuk menelaah hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Bengkalis mengalami ancaman nyata berupa laju abrasi ekstrem dan bencana kabut asap akibat kebakaran lahan gambut yang dipicu oleh praktik kapitalisme ekstraktif. Tokoh Babon merepresentasikan pergeseran etika lingkungan menuju pandangan biosentris melalui aksi restorasi mangrove sebagai bentuk resistensi terhadap kehancuran ekosistem. Cerpen ini menawarkan visi utopia ekologi pada tahun 2045, di mana pemulihan lingkungan melalui mekanisme perdagangan karbon terbukti mampu memberikan keberlanjutan hidup sekaligus kemakmuran ekonomi. Temuan dari analisis ini menegaskan bahwa penyelamatan alam merupakan prasyarat mutlak bagi keberlangsungan hidup manusia.
Copyrights © 2026