Nyeri haid merupakan keluhan ginekologis paling umum pada wanita usia subur. Lebih dari enam puluh persen perempuan Indonesia mengalaminya dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Bidan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan reproduksi memiliki peluang besar untuk memberikan intervensi nonfarmakologis yang aman dan terjangkau. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi berbagai bentuk latihan fisik terapeutik berikut parameter efektivitasnya untuk praktik kebidanan. Scoping review ini mengikuti kerangka Arksey dan O'Malley. Pencarian literatur dilakukan pada November 2024 hingga Januari 2025 melalui PubMed, Google Scholar, dan portal Garuda. Kata kunci yang digunakan meliputi dismenore, nyeri haid, latihan fisik, asuhan kebidanan, yoga, dan stabilisasi inti. Kriteria inklusi adalah artikel terbit tahun 2015–2025, subjek wanita dengan dismenore primer, intervensi latihan fisik terapeutik, serta berbahasa Indonesia atau Inggris. Dari 147 artikel, hanya 12 yang memenuhi seluruh kriteria. Hasil menunjukkan latihan aerobik intensitas sedang selama 30 menit tiga kali seminggu menurunkan nyeri haid sebesar 2,8-3,1 poin pada skala visual analog. Yoga dua kali seminggu selama 12 sesi menurunkan skor nyeri dari 6,4 menjadi 2,1. Latihan stabilisasi inti meredakan nyeri punggung bawah hingga 62%. Kombinasi beberapa jenis latihan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan satu jenis latihan saja. Simpulannya, latihan fisik terapeutik berupa aerobik, yoga, dan stabilisasi inti efektif mengurangi nyeri haid. Bidan direkomendasikan untuk mengajarkan dan memfasilitasi latihan tersebut sebagai bagian dari asuhan kebidanan komplementer.
Copyrights © 2026