Sri Gunda Fahriana Fahruddin
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMANFAATAN DUKUNGAN DIGITAL DALAM PRAKTIK BERBASIS BUKTI DAN TANTANGANNYA DI KALANGAN FISIOTERAPIS INDONESIA: Digital Support In Evidence-Based Practice And Related Challenges Among Indonesian Physiotherapists Risa Kusuma Anggraeni; Sri Gunda Fahriana Fahruddin
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 18 No 1 (2026): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v18i1.1507

Abstract

Seiring dengan berkembangnya layanan kesehatan digital, fisioterapis semakin dituntut untuk tidak hanya menggunakan platform digital sebagai sumber informasi, tetapi juga sebagai alat penunjang penalaran klinis dan praktik berbasis bukti. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana fisioterapis di Indonesia, khususnya mereka yang berada di awal karier, memanfaatkan alat digital untuk mendukung pengambilan keputusan profesional. Survei potong lintang dilakukan terhadap 50 fisioterapis dari berbagai fasilitas layanan kesehatan di Indonesia. Mayoritas responden berusia di bawah 25 tahun, memiliki latar belakang pendidikan Diploma III Fisioterapi, dan pengalaman kerja kurang dari satu tahun. Meskipun masih baru dalam praktik, 82% responden menunjukkan motivasi sedang hingga tinggi untuk menggunakan alat kesehatan digital. Namun, frekuensi penggunaannya relatif rendah—hanya 2% yang mengakses setiap hari, sementara sisanya hanya beberapa kali dalam seminggu atau bulan. Platform yang paling sering digunakan adalah PubMed (40,4%) dan Google Scholar (34,3%), sedangkan basis data khusus seperti PEDro dan Cochrane Library jarang diakses. Sebanyak 58% responden menyatakan bahwa alat digital meningkatkan kualitas intervensi mereka, meskipun 42% masih ragu. Hambatan yang umum dilaporkan meliputi keterbatasan waktu praktik (29,1%), kesulitan memahami artikel berbahasa asing (24,1%), kurangnya pelatihan (20,3%), dan kendala konektivitas internet (11,4%). Temuan ini menunjukkan minat tinggi fisioterapis muda terhadap penggunaan alat digital, namun masih terdapat hambatan sistemik dan edukasional yang menghambat penerapannya. Studi ini menekankan pentingnya integrasi literasi digital dalam pendidikan fisioterapi, peningkatan akses terhadap sumber berkualitas tinggi, serta dukungan kelembagaan untuk memperkuat pemanfaatan teknologi dalam praktik klinis sehari-hari. Kata kunci: kesehatan digital, fisioterapi, praktik berbasis bukti, pengambilan keputusan klinis, Indonesia  As digital health continues to reshape healthcare delivery, physiotherapists are increasingly expected to engage with digital platforms not only as a source of information, but as a tool to support clinical reasoning and evidence based practice. This study aimed to explore how Indonesian physiotherapists, particularly those early in their careers, utilize digital tools to inform and enhance their professional decisions. A cross-sectional survey was conducted with 50 physiotherapists from diverse clinical settings across Indonesia. The majority of respondents were under 25 years old, held a Diploma III in Physiotherapy, and had less than one year of clinical experience. Despite their limited time in practice, most participants expressed strong motivation to engage with digital health tools, with 82% reporting moderate to high motivation. However, frequency of use was relatively low only 2% accessed digital tools daily, while most reported using them several times per week or month. Popular platforms included PubMed (40.4%) and Google Scholar (34.3%), whereas specialized databases such as PEDro and the Cochrane Library were accessed far less frequently. While 58% of respondents agreed that digital tools improved the quality of their interventions, a notable 42% remained unsure. Commonly cited barriers included lack of time during clinical hours (29.1%), difficulty reading articles in foreign languages (24.1%), lack of training (20.3%), and internet connectivity issues (11.4%). These findings reveal a clear interest in using digital tools among young Indonesian physiotherapists, yet highlight persistent systemic and educational barriers that limit their practical application. The study underscores the need for better integration of digital literacy in physiotherapy training, improved access to high-quality resources, and support systems that empower clinicians to fully embrace digital tools in everyday practice. Keywords: digital health, physiotherapy, evidence based practice, clinical decision making, Indonesia
Latihan Fisik Terapeutik dalam Asuhan Kebidanan untuk Nyeri Haid: Sebuah Scoping Review Ineke Permatasari; Aliesya Patricia Wulandari; Sri Gunda Fahriana Fahruddin; Masyita Siregar
Midwife Care Journal Vol. 3 No. 1 (May 2026)
Publisher : Universitas Bhakti Asih Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65344/micare.v3i1.223

Abstract

Nyeri haid merupakan keluhan ginekologis paling umum pada wanita usia subur. Lebih dari enam puluh persen perempuan Indonesia mengalaminya dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Bidan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan reproduksi memiliki peluang besar untuk memberikan intervensi nonfarmakologis yang aman dan terjangkau. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi berbagai bentuk latihan fisik terapeutik berikut parameter efektivitasnya untuk praktik kebidanan. Scoping review ini mengikuti kerangka Arksey dan O'Malley. Pencarian literatur dilakukan pada November 2024 hingga Januari 2025 melalui PubMed, Google Scholar, dan portal Garuda. Kata kunci yang digunakan meliputi dismenore, nyeri haid, latihan fisik, asuhan kebidanan, yoga, dan stabilisasi inti. Kriteria inklusi adalah artikel terbit tahun 2015–2025, subjek wanita dengan dismenore primer, intervensi latihan fisik terapeutik, serta berbahasa Indonesia atau Inggris. Dari 147 artikel, hanya 12 yang memenuhi seluruh kriteria. Hasil menunjukkan latihan aerobik intensitas sedang selama 30 menit tiga kali seminggu menurunkan nyeri haid sebesar 2,8-3,1 poin pada skala visual analog. Yoga dua kali seminggu selama 12 sesi menurunkan skor nyeri dari 6,4 menjadi 2,1. Latihan stabilisasi inti meredakan nyeri punggung bawah hingga 62%. Kombinasi beberapa jenis latihan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan satu jenis latihan saja. Simpulannya, latihan fisik terapeutik berupa aerobik, yoga, dan stabilisasi inti efektif mengurangi nyeri haid. Bidan direkomendasikan untuk mengajarkan dan memfasilitasi latihan tersebut sebagai bagian dari asuhan kebidanan komplementer.