Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kemampuan mempertahankan kepuasan ( menunda kepuasan ) dengan keputusan pembelian pada individu dewasa awal pengguna e-commerce di era digital. Kemudahan akses belanja berani yang menawarkan berbagai stimulus instan seperti diskon, flash sale , dan paylater kerap memicu dorongan emosional yang berujung pada perilaku impulsif dan penyesalan pasca-pembelian. Oleh karena itu, penundaan kepuasan dipandang sebagai bentuk regulasi diri esensial guna menahan dorongan kepuasan langsung demi kesejahteraan finansial jangka panjang yang lebih bernilai. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model statistik eksplanatori. Sampel penelitian melibatkan 439 subjek dewasa awal di Indonesia yang dipilih melalui metode Accidental Sampling . Pengumpulan data dilakukan secara berani menggunakan instrumen kuesioner skala Likert dan dianalisis melalui perangkat lunak IBM SPSS. Hasil penelitian membuktikan adanya hubungan yang sangat signifikan antara menunda kepuasan dengan keputusan pembelian (Sig. < 0,001). Mayoritas responden menunjukkan tingkat penundaan gratifikasi yang tinggi (65,1%) serta tingkat keputusan pembelian rasional yang juga tergolong tinggi (64%). Dapat disimpulkan bahwa semakin baik kemampuan individu dalam mempertahankan kepuasan, semakin rasional dan objektif pula keputusan pembelian yang diambil. Kemampuan ini berfungsi layaknya mekanisme pertahanan kognitif yang menjaga individu dari manipulasi promosi digital dan meminimalkan risiko penyesalan berbelanja.
Copyrights © 2026