Kemampuan berpikir kreatif matematika siswa masih relatif rendah akibat pembelajaran yang berpusat pada guru, yang membatasi kesempatan untuk eksplorasi aktif dan pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) dan Student Teams Achievement Division (STAD) terhadap kemampuan berpikir kreatif matematika siswa. Pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-eksperimental pretest–posttest kelompok kontrol digunakan. Sampel terdiri dari dua kelompok eksperimen (PBL dan STAD) dan satu kelompok kontrol yang menerima pengajaran konvensional. Data dikumpulkan menggunakan tes berpikir kreatif matematika dan dianalisis melalui uji normalitas Shapiro–Wilk, uji homogenitas Levene, ANOVA Satu Arah, dan analisis post hoc Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok PBL mencapai skor N-Gain tertinggi (0,402), diikuti oleh kelompok STAD (0,334), yang keduanya dikategorikan sebagai moderat, sedangkan kelompok konvensional memperoleh skor N-Gain yang rendah (0,076). ANOVA Satu Arah menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan di antara ketiga kelompok (p = 0,001). Analisis Tukey HSD tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok PBL dan STAD, sedangkan keduanya secara signifikan lebih unggul daripada pembelajaran konvensional. Temuan ini menunjukkan bahwa PBL dan STAD lebih efektif daripada pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematika siswa.
Copyrights © 2026