Perbedaan mendasar antara paradigma sains Barat dan sains Islam melalui pendekatan filsafat sains, dengan menitikberatkan pada aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Sains Barat modern berkembang dalam kerangka rasionalisme, empirisme, dan sekularisme yang memisahkan ilmu pengetahuan dari nilai-nilai metafisik dan religius. Akibatnya, sains cenderung dipahami sebagai sistem yang netral dan bebas nilai, namun dalam praktiknya melahirkan berbagai krisis etis, ekologis, dan dehumanisasi teknologi. Sebaliknya, sains dalam perspektif Islam berpijak pada prinsip tauhid yang menempatkan Tuhan sebagai sumber dan tujuan pengetahuan. Dalam epistemologi Islam, wahyu, akal, dan pengalaman empiris dipahami sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi dan terintegrasi. Melalui kajian filosofis-komparatif, artikel ini menunjukkan bahwa perbedaan pandangan dunia (worldview) melahirkan orientasi keilmuan yang berbeda pula. Artikel ini menyimpulkan bahwa dialog dan integrasi antara rasionalitas ilmiah Barat dan nilai-nilai spiritual Islam merupakan kebutuhan mendesak untuk membangun sains yang tidak hanya unggul secara metodologis, tetapi juga berlandaskan etika, kemanusiaan, dan keseimbangan kosmis.
Copyrights © 2026