Joan Konveksi, usaha konveksi di Riung Bandung, masih menghadapi kegagalan produksi seperti ketidaksesuaian pola, potongan kain tidak simetris, posisi sablon/bordir meleset, jahitan berkerut, hingga sisa benang tidak rapi. Pengendalian kualitas yang diterapkan masih bersifat korektif, belum mencegah kegagalan sejak awal proses. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi dan wawancara, dengan menerapkan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan risiko kegagalan berdasarkan nilai Severity, Occurrence, dan Detection (RPN). Hasil penelitian mengidentifikasi 15 Potential Failure Mode pada lima tahapan produksi, dengan RPN tertinggi (192) pada kesalahan ukuran pola dan pemotongan kain, serta RPN terendah (54) pada sisa benang jahit. Usulan perbaikan meliputi penyusunan SOP, pelatihan pegawai, penerapan quality control preventif, dan preventive maintenance mesin. FMEA terbukti efektif memprioritaskan risiko secara objektif sebagai dasar peningkatan kualitas produksi.
Copyrights © 2026