Literasi pesantren berkembang dalam ketegangan produktif antara tradisi kitab kuning dan tuntutan literasi digital. Kajian terdahulu umumnya mendeskripsikan program literasi atau pemanfaatan teknologi secara terpisah, sehingga belum cukup menjelaskan bagaimana otoritas pedagogis, praktik membaca klasik, fasilitas, dan media digital dikelola sebagai satu ekologi literasi. Penelitian ini menganalisis bentuk praktik, faktor penggerak dan pembatas, serta implikasi pengelolaan budaya literasi santri di Pondok Buntet Pesantren Cirebon. Penelitian menggunakan studi kasus kualitatif dengan informan purposif yang mencakup santri aktif, pengasuh atau kiai, serta pengelola kegiatan literasi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan enam tahap analisis tematik. Temuan menunjukkan bahwa kitab kuning tetap menjadi inti literasi; kiai berfungsi sebagai pengarah, teladan, dan kurator sumber; teknologi digital digunakan sebagai pelengkap yang diatur secara selektif; sedangkan fasilitas, akses, pendampingan menulis, dan variasi partisipasi menjadi kendala utama. Kebaruan penelitian dirumuskan sebagai hibriditas literasi terkelola, yaitu integrasi tradisi dan teknologi melalui otoritas pedagogis pesantren. Pesantren direkomendasikan menyusun tata kelola literasi, inventaris fasilitas, klinik menulis, dan akses digital terarah, sementara penelitian lanjutan perlu melibatkan lebih dari satu pesantren.
Copyrights © 2026