Pengambilan keputusan prioritas kebutuhan di startup sering berjalan secara ad-hoc dan reaktif. Pada Sky-up Synergy, hal ini terindikasi memicu context switching ekstrem dan penumpukan technical debt. Penelitian ini memiliki tiga tujuan, yaitu menganalisis mekanisme penentuan prioritas kebutuhan serta mengekstraksi kandidat kriteria dan alternatif, menghasilkan susunan prioritas kebutuhan berskala besar (Large Change Request) menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), dan mengevaluasi stabilitas hasil keputusan melalui analisis sensitivitas. Melalui studi kasus tunggal dengan desain Sequential Exploratory, data kualitatif digali menggunakan document review, wawancara, dan focus group bersama CEO, COO, dan Lead Developer yang berhasil mengekstraksi 4 kriteria dan 7 alternatif. Data tersebut divalidasi dengan pencocokan pola dan triangulasi sumber. Data penilaian perbandingan berpasangan diukur konsistensi logisnya melalui perhitungan Consistency Ratio (CR), dengan seluruh penilaian dinyatakan konsisten (CR ≤ 0,1) dan kemudian diagregasi dengan rata-rata geometrik (geometric mean). Hasil AHP menetapkan Usaha dan Keterbatasan Sumber Daya (K3) sebagai kriteria prioritas utama (44,22%). Sintesis tujuh alternatif menempatkan Implementasi Google OAuth (A1) di peringkat pertama (25,18%), disusul Platform Refactoring & Maintenance (A7) (23,93%). Analisis sensitivitas menunjukkan hasil pemeringkatan AHP stabil terhadap perubahan kapasitas tim (K3), namun menunjukkan sensitivitas pada skenario tekanan bisnis ekstrem (K1), penyelesaian utang teknis secara matematis naik ke prioritas pertama demi mencegah kelumpuhan operasional sistem.
Copyrights © 2026