Tradisi Sedekah Laut di Pantai Sadeng merupakan praktik budaya simbolik yang membentuk identitas sosial dan spiritual masyarakat nelayan, meskipun makna filosofisnya masih sering dipahami secara terbatas. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk dan pelaksanaan tradisi Sedekah Laut di Pantai Sadeng berdasarkan pemahaman masyarakat (prafigurasi), mengidentifikasi simbol, unsur ritual, dan struktur makna dalam rangkaian tradisi tersebut (konfigurasi), serta menafsirkan makna mendalam Sedekah Laut melalui proses pemaknaan kembali (refigurasi). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika Paul Ricoeur untuk menafsirkan makna simbolik tradisi Sedekah Laut sebagai teks budaya. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara interpretatif melalui tahapan reduksi, pengelompokan, dan penafsiran makna. Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik serta verifikasi kepada informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap prafigurasi, Sedekah Laut dipahami sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil laut dan permohonan keselamatan dalam aktivitas melaut. Simbol-simbol ritual pada tahap konfigurasi seperti sesaji, tumpeng, doa bersama, dan pelarungan membentuk struktur makna kolektif yang mencerminkan nilai syukur, solidaritas sosial, serta sinkretisme antara tradisi lokal dan ajaran Islam. Selanjutnya, pada tahap refigurasi, tradisi Sedekah Laut mengandung tiga dimensi makna utama, yaitu kepercayaan, keselamatan, dan relasi manusia dengan alam, yang memperkuat identitas budaya, kesadaran ekologis, serta kohesi sosial masyarakat pesisir Pantai Sadeng.
Copyrights © 2026