Latar Belakang: Terapis Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memiliki tanggung jawab kerja yang kompleks dan menuntut konsentrasi serta keterlibatan emosional yang tinggi, yang dapat memicu stres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada terapis anak berkebutuhan khusus di Kota Medan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain crossectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 33 terapis yang bekerja di klinik terapi Anak Berkebutuhan Khusus. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji Spearman’s rho dan uji Mann-Whitney U. Pengumpulan data menggunakan kuesioner NASA-TLX untuk mengukur beban kerja dan kuesioner OSI RTM Revised Edition untuk mengukur tingkat stres kerja. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 15 orang terapis (45,5%) mengalami stres kerja tinggi, 13 orang (39,4%) mengalami stres kerja sedang, dan 5 orang (15,2%) mengalami stres kerja rendah. Uji Spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara beban kerja dan stres kerja (r = 0,521; p = 0,002), serta hubungan negatif yang signifikan antara masa kerja dan stres kerja (r = -0,397; p = 0,022). Sementara itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan stres kerja (r = -0,233; p = 0,191). Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara tingkat stres kerja berdasarkan jenis kelamin (p = 0,007), dengan rata-rata ranking stres kerja lebih tinggi pada terapis perempuan. Kesimpulan: Hasil ini menekankan adanya hubungan antara beban kerja yang tinggi dan masa kerja yang lebih singkat dengan tingkat stres kerja yang lebih tinggi pada terapis. Dukungan, manajemen beban kerja, dan pelatihan regulasi emosi sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
Copyrights © 2026