Studi ini mengintegrasikan analisis dokumen deklasifikasi dengan verifikasi dokumen visual foto militer untuk mengkaji keterlibatan aktif Amerika Serikat dan Australia dalam Operasi Seroja di Timor Timur pada periode 1975-1978, sebuah pendekatan yang belum diterapkan dalam historiografi topik ini. Melalui metode historis kritis yang mencakup heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi, penelitian ini menganalisis dokumen yang mengacu pada National Security Archive dan History State Goverment, khususnya dokumen Memorandum of Conversation Ford-Kissinger-Soeharto pada tanggal 6 Desember 1975. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat memberikan persetujuan politik tingkat tinggi sehari sebelum invasi berlangsung, serta melanjutkan program bantuan militer meskipun terdapat penangguhan resmi, serta memasok alutsista termasuk pesawat OV-10F Bronco yang aktif digunakan dalam fase pembersihan 1977-1978. Hal ini disusul oleh Australia yang memberikan dukungan diplomatik yang berpuncak pada pengakuan de facto integrasi Timor Timur pada 1978, sampai dengan pengakuan de jure pada tahun 1979. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterlibatan kedua negara bersifat aktif dan strategis, bukan hanya sekedar bersikap diam, dan menempatkan Operasi Seroja sebagai manifestasi nyata dari dinamika geopolitik Perang Dingin di Asia Tenggara.
Copyrights © 2026