Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis kecenderungan sentimen publik di media sosial X terhadap kontroversi unggahan "#OpenToWork" oleh figur publik Prilly Latuconsina di platform LinkedIn. Fenomena ini memicu perdebatan luas mengenai etika penggunaan fitur profesional oleh kalangan selebriti dan runtuhnya batasan antara ruang profesional dan ruang publik digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode analisis sentimen melalui platform social listening Brand24, dengan data yang dikumpulkan dari percakapan publik di media sosial X selama periode 25 Januari hingga 8 Februari 2026. Hasil penelitian terhadap total 396 mention menunjukkan bahwa sentimen netral mendominasi secara signifikan dengan 219 data (55,1%), mencerminkan peran besar akun media massa dalam menyebarkan informasi tanpa muatan emosional eksplisit di sepanjang periode kontroversi. Di luar dominasi tersebut, sentimen negatif tercatat sebanyak 138 data (34,8%) dan sentimen positif sebanyak 40 data (10,1%) , selisih lebih dari tiga kali lipat antara keduanya menunjukkan bahwa di antara publik yang bersikap tegas, reaksi kritis jauh lebih menonjol dibandingkan dukungan, dengan sentimen negatif terbentuk melalui dua gelombang: persepsi ketidakpekaan sosial (tone-deaf) terhadap kondisi pengangguran muda, dan perasaan diperdaya setelah terungkapnya dimensi komersial kampanye iklan di balik unggahan tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa platform X dalam kasus ini berfungsi utamanya sebagai ruang penyebaran informasi, sekaligus arena evaluasi moral kolektif yang mampu mengubah tindakan personal di ranah profesional menjadi kontroversi publik dalam hitungan jam.
Copyrights © 2026