Artikel ini mengkaji dampak misi Kristen dan kolonialisme terhadap masyarakat Batak, dengan fokus pada keterkaitan erat antara aktivitas penginjilan Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) dan ekspansi kekuasaan kolonial Belanda di Sumatra Utara. Berangkat dari kegiatan misi RMG di Tanah Batak yang dimulai pada tahun 1861—sebuah lembaga misi Jerman yang dikenal berhaluan pro-kolonial dan memiliki bias rasial—tulisan ini menelusuri perubahan sosial-politik dan kultural yang menyertai proses kristenisasi serta integrasi wilayah pegunungan Batak ke dalam administrasi Hindia Belanda. Kajian ini menegaskan bahwa masyarakat Batak bukanlah subjek pasif dalam proses ini. Dengan caranya sendiri, mereka aktif menavigasi perubahan, berupaya menentukan nasib sendiri, dan mengembangkan aspirasi menuju otonomi—baik dalam ranah politik lokal maupun di dalam gereja. Artikel ini, yang diterjemahkan oleh Uli Kozok dari versi aslinya dalam bahasa Jerman, didasarkan pada sumber-sumber primer termasuk laporan-laporan misi, dan disertai analisis historiografis kritis terhadap peran teologi, ideologi kolonial, dan sistem kekuasaan lokal.
Copyrights © 2026