Penelitian ini mengkaji perkembangan produksi dan praktik vaksin di Hindia Belanda dalam kurun waktu 1804–1942 dengan menempatkannya dalam konteks kekuasaan kolonial dan jaringan sains global. Studi ini menggunakan metode sejarah melalui analisis sumber arsip, laporan kesehatan kolonial, serta literatur sekunder terkait sejarah kedokteran kolonial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan vaksin, mulai dari vaksin cacar hingga berbagai vaksin profilaksis, terapeutik, dan serum, tidak hanya merupakan upaya medis untuk mengendalikan penyakit, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah kolonial dalam mengelola populasi dan menjaga stabilitas sosial-ekonomi. Praktik vaksinasi melibatkan aktor lokal seperti Dokter Jawa dan mantri sebagai mediator antara negara kolonial dan masyarakat, sekaligus memperlihatkan adanya resistensi di tingkat lokal. Selain itu, produksi vaksin di Hindia Belanda terhubung dengan jaringan global sains kolonial yang mengaitkan laboratorium di Eropa dengan wilayah koloni melalui sirkulasi pengetahuan, teknologi, dan material biologis. Dengan demikian, studi ini menegaskan bahwa praktik vaksinasi kolonial merupakan pertemuan antara kepentingan medis, kekuasaan, dan dinamika sosial dalam konteks global.
Copyrights © 2026