Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi narasi pertumbuhan ekonomi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melalui lensa Analisis Wacana Kritis (AWK). Fokus utama terletak pada penggunaan istilah "noise" ekonomi, target pertumbuhan 8 persen, dan gaya komunikasi "koboi" sebagai instrumen hegemoni. Menggunakan model tiga dimensi Norman Fairclough teks, praktik diskursif, dan praktik sosial budaya analisis ini mengungkap bahwa narasi tersebut beroperasi untuk memarginalkan suara kritis dengan melabelinya sebagai gangguan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi konfrontatif ini merupakan upaya sadar membangun populisme teknokratik guna memulihkan kepercayaan publik pasca era Sri Mulyani. Disimpulkan bahwa narasi ekonomi telah bergeser menjadi optimisme agresif yang menuntut penundaan tuntutan sosial demi stabilitas nasional. Rekomendasinya, pemerintah perlu menyeimbangkan narasi optimisme dengan transparansi kebijakan yang inklusif agar kritik dari masyarakat sipil tidak hanya dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai kontrol kebijakan yang sehat.
Copyrights © 2026