Artikel ini mengkaji mengenai tradisi pesta tahunan masyarakat Karo yang dikenal sebagai Kerja Tahun atau Merdang Merdemmerupakan salah satu bentuk kebudayaan yang memiliki nilai historis, sosial, dan religius yang kuat. Tradisi ini dilaksanakan secara periodik setiap tahun, umumnya berkaitan dengan siklus pertanian, khususnya sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen kepada Tuhan (Dibata) serta sebagai sarana mempererat hubungan sosial antaranggota masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tradisi pesta tahunan masyarakat Karo secara komprehensif dengan menggunakan pendekatan teori-teori kebudayaan, seperti fungsionalisme, simbolisme, dan strukturalisme. Dalam perspektif fungsionalisme, pesta tahunan berfungsi sebagai mekanisme integrasi sosial yang memperkuat solidaritas, mempererat kekerabatan, serta menjaga keseimbangan sosial dalam komunitas. Sementara itu, melalui pendekatan simbolik, setiap rangkaian prosesi dalam pesta—seperti doa bersama, penyajian makanan adat, dan pertunjukan seni—mengandung makna simbolis yang merepresentasikan nilai-nilai spiritual, rasa syukur, dan identitas budaya masyarakat Karo. Dengan demikian, tradisi pesta tahunan masyarakat Karo tidak hanya berfungsi sebagai ritual budaya, tetapi juga sebagai medium pelestarian identitas, solidaritas sosial, dan adaptasi budaya dalam menghadapi perubahan zaman. Penelitian ini menegaskan pentingnya mempertahankan tradisi tersebut sebagai warisan budaya yang memiliki nilai multidimensional dalam kehidupan masyarakat Karo. Keywords: Tradisi, Masyarakat Karo, Teori Kebudayaan.
Copyrights © 2026