Tingkat pelaporan insiden keselamatan pasien yang rendah tetap menjadi tantangan utama dalam budaya keselamatan pasien rumah sakit. Kepemimpinan kepala bangsal memainkan peran penting dalam mempengaruhi perilaku pelaporan perawat. Namun, banyak perawat yang masih enggan melaporkan insiden karena takut disalahkan atau dihukum. Studi sebelumnya terutama dilakukan di rumah sakit umum, swasta, atau pendidikan, sementara bukti dari rumah sakit dengan struktur birokrasi dan hierarkis khusus masih terbatas. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kepemimpinan transformasional kepala bangsal dan kepatuhan perawat terhadap pelaporan insiden keselamatan pasien. Desain cross-sectional digunakan yang melibatkan 50 perawat yang dipilih secara acak dari bangsal rawat inap. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang divalidasi dan dapat diandalkan dan dianalisis menggunakan korelasi Spearman. Temuan menunjukkan hubungan yang signifikan antara kepemimpinan transformasional dan kepatuhan pelaporan (p < 0,001; α < 0,05). Sebagian besar perawat (78%) menganggap kepemimpinan kepala bangsal baik, sementara 72% menunjukkan kepatuhan yang baik terhadap pelaporan insiden. Kepemimpinan transformasional yang lebih baik dikaitkan dengan kepatuhan pelaporan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, penguatan kompetensi kepemimpinan transformasional sangat penting untuk mendukung budaya keselamatan pasien, terutama di rumah sakit dengan karakteristik organisasi semi-militer dan hierarkis.
Copyrights © 2026