Jurnal Ners
Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026

Efektivitas Temulawak Dalam Meningkatkan Nafsu Makan dan Status Gizi Balita Berisiko Stunting di Desa Grong-Grong, Kab.Pidie

Aida Khairunnisa (Akademi Keperawatan Ibnu Sina)
Lisa Rahmi (Institut Ilmu Kesehatan dan Teknologi Nurdin Abdurrahman)
Indah Lestari (Universitas Jabal ghafur)



Article Info

Publish Date
20 Jul 2026

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas sumber daya manusia. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya stunting adalah rendahnya nafsu makan yang menyebabkan asupan energi dan zat gizi tidak terpenuhi secara optimal. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman herbal Indonesia yang mengandung kurkuminoid dan minyak atsiri yang berpotensi meningkatkan nafsu makan melalui perbaikan fungsi pencernaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pemberian temulawak dalam meningkatkan nafsu makan dan status gizi balita berisiko stunting di Desa Grong-grong, Kabupaten Pidie. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan quasi-experimental menggunakan desain One Group Pretest–Posttest. Sampel penelitian berjumlah 30 balita berusia 24–59 bulan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa pemberian sirup ekstrak temulawak dua kali sehari selama 30 hari. Data dikumpulkan melalui observasi, kuesioner nafsu makan, dan pengukuran antropometri sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji yang sesuai dengan distribusi data pada tingkat signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata nafsu makan meningkat dari 2,45 ± 0,51 menjadi 3,68 ± 0,47 setelah intervensi. Proporsi balita dengan nafsu makan baik meningkat dari 30,0% menjadi 80,0%. Rata-rata berat badan meningkat dari 10,82 ± 1,21 kg menjadi 11,34 ± 1,18 kg, sedangkan nilai rata-rata Z-score BB/U meningkat dari −2,08 menjadi −1,74. Persentase balita dengan status gizi baik meningkat dari 26,7% menjadi 56,7%, sementara status gizi kurang menurun dari 73,3% menjadi 43,3%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian temulawak efektif meningkatkan nafsu makan dan memperbaiki status gizi balita berisiko stunting.Pemberian temulawak selama 30 hari efektif meningkatkan nafsu makan, berat badan, dan status gizi balita berisiko stunting di Desa Grong-grong, Kabupaten Pidie. Temulawak berpotensi menjadi terapi komplementer berbasis kearifan lokal yang mendukung upaya pencegahan stunting apabila dipadukan dengan edukasi gizi, pemantauan pertumbuhan, dan penerapan pola makan bergizi seimbang.

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

ners

Publisher

Subject

Health Professions Medicine & Pharmacology Nursing

Description

Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer ...