Perubahan organisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari akibat dinamika lingkungan bisnis yang terus berkembang, mulai dari perkembangan teknologi, pergeseran pasar, hingga tuntutan daya saing. Di sisi lain, proses perubahan kerap memunculkan tekanan psikologis atau stres kerja yang, apabila tidak dikelola dengan tepat, dapat menurunkan kinerja dan kesejahteraan karyawan. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara konseptual keterkaitan antara manajemen perubahan dan manajemen stres dalam organisasi melalui pendekatan tinjauan literatur (literature review). Metode yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif dengan menelaah berbagai sumber pustaka relevan, meliputi teori perubahan model Kurt Lewin, model delapan langkah John Kotter, serta konsep manajemen stres pada level individu dan organisasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi perubahan sangat dipengaruhi oleh kemampuan pemimpin dalam mengomunikasikan visi secara jelas, melibatkan karyawan dalam proses perubahan, serta menyediakan pelatihan dan dukungan manajerial yang konsisten. Selain itu, stres kerja yang timbul akibat proses perubahan dapat diminimalkan melalui kombinasi strategi individu, seperti olahraga, manajemen waktu, dan istirahat yang cukup, dengan strategi organisasi, seperti penciptaan lingkungan kerja yang sehat, dukungan sosial, program kesejahteraan, dan fleksibilitas kerja. Kajian ini menyimpulkan bahwa organisasi yang mampu mengintegrasikan manajemen perubahan dengan manajemen stres secara simultan akan lebih siap membangun budaya organisasi yang adaptif, resilien, dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026