Penelitian ini bertujuan untuk membedah relasi kelas sosial melalui penggunaan deiksis dan strategi kesantunan sosiopragmatik dalam novel Janji di Tanah Jawa karya Agil Sri Rahayu. Latar sejarah abad ke-19 pada era tanam paksa menciptakan struktur sosial yang kaku, yang secara langsung memengaruhi perilaku tutur masyarakatnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) deiksis sosial vertikal-naik seperti sapaan ndoro digunakan oleh kelas bawah, tokoh Wira sebagai instrumen subordinasi dan pertahanan diri di bawah sistem feodal-kolonial; (2) strategi kesantunan positif dan tindakan perbaikan muka yang ditunjukkan tokoh Kinanti berfungsi sebagai sarana emansipasi linguistik untuk meruntuhkan sekat antarkasta; dan (3) tokoh Manggala merepresentasikan hibriditas pragmatik yang mampu menegosiasikan identitas antara logika egaliter Barat dan etika tradisional Timur. Simpulan penelitian menegaskan bahwa bahasa dalam novel ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang perjuangan.
Copyrights © 2026